HOME  ⁄  Nasional

Warga Tolak Rencana Penambahan Kapasitas RDF Rorotan, Khawatir Dampak Lingkungan dan Kesehatan Memburuk

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Warga Tolak Rencana Penambahan Kapasitas RDF Rorotan, Khawatir Dampak Lingkungan dan Kesehatan Memburuk
Foto: (Sumber :Warga di sekitar kawasan RDF Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara yang terdampak bau menyengat dan pencemaran udara melakukan aksi penolakan operasional RDF Plant pada Sabtu (17/1/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi..)

Pantau - Warga Cakung Timur, Jakarta Timur, meminta wacana peningkatan kapasitas operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan hingga 2.500 ton sampah per hari dihentikan karena dinilai mengabaikan aspek lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat terdampak.

Permintaan itu disampaikan Anggota Tim Kerja Pemantauan Kegiatan Pengoperasian (TKPKP) RDF Plant Jakarta, Wahyu Andre Maryono, menyusul pernyataan Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta yang menyebut kapasitas RDF Rorotan dapat mencapai 2.500 ton per hari.

"Seharusnya Pansus menghormati kesepakatan yang telah dibangun Pemda bersama perwakilan warga yang duduk di tim pemantau," kata Wahyu di Jakarta, Rabu.

Warga Soroti Dampak Bau dan Pencemaran Udara

Wahyu menjelaskan kesepakatan antara pemerintah daerah dan warga sebelumnya telah difasilitasi Sekretaris Daerah DKI Jakarta melalui SK Sekda Nomor 18 Tahun 2026 yang membentuk tim pemantau operasional RDF Plant.

Tim tersebut bertugas memastikan pengoperasian fasilitas pengolahan sampah tetap mengedepankan aspek lingkungan, pencegahan pencemaran udara, serta kesehatan dan kenyamanan warga sekitar.

Menurut Wahyu, hingga saat ini laporan mengenai bau menyengat dan pencemaran udara masih sering diterima warga meskipun kapasitas operasional RDF Rorotan masih berada di bawah 1.000 ton per hari.

Ia menilai kondisi tersebut terjadi karena sampah yang diolah masih berupa sampah tercampur dan belum sepenuhnya melalui proses pemilahan sesuai konsep 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle.

"Jika pihak RDF tetap memaksakan target 2.500 ton di tengah kondisi sampah yang masih tercampur, maka terjadi dampak kesehatan serta kebauan yang meluas. Warga dipastikan akan kembali turun ke jalan untuk menyuarakan relokasi atau penutupan RDF Plant Rorotan," ungkapnya.

Desak Prioritaskan Pemilahan Sampah dari Hulu

Wahyu juga menilai persoalan infrastruktur seperti akses jalan dan kekurangan armada truk kompaktor yang disoroti Pansus DPRD DKI Jakarta tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena masih terkendala pengadaan dan pembebasan lahan.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini bukan peningkatan kapasitas pengolahan, melainkan memastikan sampah sudah dipilah sejak dari sumber agar tidak menimbulkan dampak kesehatan maupun gangguan bau bagi masyarakat.

Ia meminta Pansus DPRD DKI Jakarta tidak hanya berfokus pada target kapasitas maksimal RDF Rorotan di atas kertas, tetapi juga mendengarkan aspirasi warga yang terdampak langsung oleh operasional fasilitas tersebut.

"Solusi duduk bersama demi kepentingan dan mengutamakan kesehatan, kenyamanan serta pendapat warga terdampak harus diutamakan," ujarnya.

DPRD Soroti Optimalisasi Operasional RDF

Sebelumnya, Panitia Khusus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta menyoroti sejumlah kendala yang masih menghambat optimalisasi RDF Plant Rorotan, terutama terkait infrastruktur pendukung.

Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta Judistira Hermawan mengatakan RDF Rorotan merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang.

Berdasarkan hasil peninjauan, fasilitas RDF Rorotan memiliki tiga lini pengolahan dengan kapasitas sekitar 800 ton per hari untuk setiap lini atau total sekitar 2.400 ton sampah per hari.

Penulis :
Aditya Yohan