
Pantau - Swedia mulai mengembalikan penggunaan buku cetak di sekolah-sekolah setelah muncul kekhawatiran bahwa penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat mengganggu proses belajar dan konsentrasi anak-anak.
Kebijakan tersebut menandai perubahan arah pendidikan di negara yang sebelumnya dikenal sebagai pelopor penggunaan laptop dan tablet dalam kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.
Penurunan Prestasi Belajar Picu Evaluasi
Perdebatan mengenai penggunaan perangkat digital di sekolah semakin menguat setelah hasil Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) dari OECD menunjukkan penurunan signifikan nilai membaca dan matematika siswa Swedia pada periode 2018 hingga 2022.
Tinjauan yang dilakukan pemerintah bersama ahli saraf dan pakar pediatri menyimpulkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap perangkat digital dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi siswa.
Hasil kajian tersebut juga menunjukkan materi cetak dinilai lebih efektif dalam mendukung proses pembelajaran dibandingkan media digital.
Sebagai respons, pemerintah Swedia sejak 2023 mulai mendorong penggunaan metode pembelajaran berbasis kertas terutama bagi siswa usia dini.
“Keputusan ini didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak, yang otaknya masih berkembang, mungkin sangat rentan terhadap dampak perangkat digital,” kata Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia Joar Forssell.
Pemerintah Swedia bahkan mengalokasikan dana sekitar 658 juta hingga 755 juta kronor atau setara 70 juta hingga 80 juta dolar AS per tahun hingga 2025 untuk pengadaan buku cetak dan materi pembelajaran lainnya.
Siswa dan Sekolah Rasakan Manfaat Buku Fisik
Di Sekolah Bandhagen, Stockholm, siswa kembali menggunakan materi cetak dalam kegiatan belajar sehari-hari sebagai bagian dari perubahan pendekatan pendidikan tersebut.
“Saat membaca lewat perangkat digital, saya biasanya pusing,” ungkap seorang siswa bernama Emilia.
“Saya bisa berkonsentrasi lebih baik ketika membaca buku fisik,” lanjutnya.
Meski demikian, sejumlah peneliti dan pendidik menilai penurunan prestasi akademik tidak semata-mata disebabkan penggunaan teknologi digital.
Mereka juga menyoroti faktor perubahan demografis serta tantangan pendidikan yang dihadapi siswa dari keluarga imigran yang datang ke Swedia dalam jumlah besar sejak 2015.
Kepala Sekolah Bandhagen Pia Nystrom menilai fokus utama dunia pendidikan seharusnya mencari keseimbangan antara metode pembelajaran digital dan tradisional.
Menurutnya, teknologi tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena tantangan pendidikan saat ini bersifat kompleks dan melibatkan berbagai faktor.
- Penulis :
- Aditya Yohan





