
Pantau - Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah mengusulkan pembaruan panduan penanganan darurat bencana guna mengoptimalkan pemenuhan gizi bagi ibu dan anak selama masa tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.
Usulan tersebut disampaikan Ketua LLHPB PP Aisyiyah Rahmawati Husein dalam forum laporan publik kegiatan edukasi gizi di daerah bencana.
Rahmawati menilai kebutuhan gizi balita dan anak harus menjadi perhatian sejak fase awal penanganan bencana karena kondisi gizi pada masa pemulihan sangat dipengaruhi oleh langkah yang dilakukan saat tanggap darurat.
“Jadi memang penting itu memastikan kebutuhan balita saat darurat dan pemulihan. Karena darurat itu penting, apalagi transisi daruratnya saja masih berjalan sampai sekarang di Tamiang. Sudah enam bulan masih transisi darurat,” ungkap Rahmawati.
Rahmawati menjelaskan Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis telah memiliki Panduan Operasional Pemberian Makanan bagi Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat yang disusun pada 2014 dan diperbarui pada 2019.
Namun, berdasarkan berbagai pengalaman di lapangan, panduan tersebut dinilai perlu disempurnakan agar lebih relevan dengan tantangan pemulihan masyarakat pascabencana.
“Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis sudah punya panduan operasional pemberian makanan bagi bayi dan balita. Itu tahun 2019 dan ada sebelumnya tahun 2014. Mungkin usulan kita dari acara hari ini bisa untuk penyempurnaan itu,” ujarnya.
Menurut Rahmawati, salah satu aspek yang perlu diperkuat dalam standar operasional prosedur adalah kualitas bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.
Ia menilai distribusi bantuan tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan kalori, tetapi juga harus memperhatikan kandungan gizi yang dibutuhkan anak-anak.
Rahmawati mengungkapkan masih ditemukan bantuan pangan berupa makanan instan dan produk yang kurang mendukung kebutuhan gizi jangka panjang anak, seperti mi instan, biskuit, dan kental manis.
“Bagaimana membangun kesadaran itu penting. Jadi kegiatan-kegiatan pada saat tanggap darurat itu tidak hanya kegiatan pemberian makanan yang tadi juga tidak tepat, ada makanan instan kemudian kental manis, tetapi membangun kesadaran gizi dari kandungan itu menjadi penting,” katanya.
Selain memperhatikan kualitas pangan, Rahmawati juga menekankan pentingnya pelibatan perempuan dan komunitas lokal dalam proses pemulihan karena mereka dinilai lebih memahami potensi sumber pangan lokal yang tersedia di wilayah terdampak.
Sementara itu, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Budi Setiawan menilai kebutuhan gizi kelompok rentan harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan dapur umum selama masa darurat dan pemulihan.
“Di masa pemulihan ini makanan instan perlu dihentikan. Setiap dapur umum hendaknya memiliki panduan yang jelas mengenai kebutuhan gizi kelompok rentan, terutama anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui,” ujar Budi.
Menurutnya, dapur umum tidak hanya berfungsi menyediakan makanan bagi penyintas bencana, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi anak, ibu hamil, dan ibu menyusui dapat terpenuhi dengan baik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





