
Pantau - Menteri Luar Negeri RI periode 2001–2009 Hassan Wirajuda menilai perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran masih memiliki prospek positif meskipun diwarnai berbagai dinamika dan gejolak selama proses negosiasi berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Hassan di sela Forum Jakarta 2026 yang memperingati lima tahun kemitraan strategis komprehensif ASEAN-China di Jakarta, Senin (22/6).
Dinamika Negosiasi Dinilai Masih Bisa Diatasi
Hassan mengatakan berbagai hambatan yang muncul selama proses dialog masih berada dalam batas yang dapat diselesaikan oleh para pihak.
“Menurut saya, hal-hal tersebut masih dapat diatasi,” kata Hassan.
Ia menjelaskan memorandum yang ditandatangani oleh pemimpin Amerika Serikat dan Iran pada 18 Juni lalu masih merupakan kesepakatan awal yang menjadi landasan bagi perundingan damai selama 60 hari ke depan.
Menurut dia, negosiasi yang berlangsung di Swiss berpotensi menghadapi tantangan karena melibatkan faktor eksternal, termasuk situasi yang berkaitan dengan Israel dan Hizbullah.
Hassan menilai keberlangsungan kesepakatan sangat dipengaruhi oleh kondisi di lapangan, khususnya terkait implementasi gencatan senjata yang melibatkan berbagai pihak.
Ia mencontohkan jika serangan terhadap Hizbullah di Beirut dan wilayah Lebanon selatan terus berlangsung, Iran dapat menganggap kondisi tersebut sebagai pelanggaran terhadap memorandum yang telah disepakati.
Komitmen Negosiasi Masih Terlihat
Terkait pernyataan keras yang kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah proses perundingan, Hassan menilai situasi tersebut tidak serta-merta mengancam jalannya dialog.
Menurut dia, masih terdapat tokoh-tokoh penting di pemerintahan Amerika Serikat yang menunjukkan komitmen terhadap proses negosiasi.
“Di saat yang sama ada pula Wakil Presiden JD Vance yang suaranya masih lebih positif,” ucap Hassan.
Ia menyoroti peran JD Vance yang terlibat langsung dalam proses negosiasi di Swiss sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi tetap dijaga.
Hassan juga memproyeksikan berbagai dinamika serupa masih akan muncul selama proses perundingan antara Washington dan Teheran berlangsung.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut perundingan dengan Amerika Serikat telah menunjukkan kemajuan yang signifikan.
“Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan program rekonstruksi serta pembangunan besar diluncurkan untuk Iran,” kata Araghchi.
Kemajuan tersebut diumumkan setelah Qatar dan Pakistan melaporkan perkembangan penting dalam upaya mediasi antara kedua negara.
Dalam pernyataan bersama, Qatar dan Pakistan menyebut para pihak telah sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama yang juga melibatkan Lebanon untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer sesuai memorandum yang telah dicapai.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





