
Pantau - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) didorong mengambil peran strategis dalam pengembangan terapi gen, terapi sel, dan teknologi kesehatan berbasis genomik agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam inovasi biofarmasi modern.
Transformasi besar di sektor kesehatan global saat ini ditandai dengan berkembangnya terapi gen, terapi sel, rekayasa jaringan, dan kecerdasan buatan yang mengubah pendekatan pengobatan menjadi lebih presisi dan mampu menangani sumber penyakit secara langsung.
Menurut Kepala BPOM Taruna Ikrar, kemajuan tersebut membuka peluang baru dalam penanganan penyakit genetik, kanker, penyakit degeneratif, hingga kerusakan organ yang selama ini sulit diatasi dengan terapi konvensional.
Peran BPOM dalam Pengembangan Terapi Modern
Taruna menjelaskan perkembangan Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) yang mencakup terapi gen, terapi sel, dan produk rekayasa jaringan menjadi tonggak baru dunia kedokteran modern.
Keberhasilan terapi sel CAR-T dalam menangani leukemia pada anak disebut sebagai salah satu bukti kemajuan ilmu pengetahuan dalam menciptakan pendekatan pengobatan yang lebih efektif.
Namun, menurutnya, inovasi tersebut memerlukan dukungan regulasi yang adaptif agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan tetap menjamin aspek keamanan serta mutu produk kesehatan.
“BPOM harus hadir bukan hanya sebagai lembaga pengawas, tetapi juga sebagai strategic enabler dalam pembangunan ekosistem terapi gen dan bioteknologi kesehatan nasional,” tulis Taruna dalam telaahnya.
BPOM saat ini memperkuat berbagai kebijakan terkait ATMP melalui pendampingan uji klinik terapi lanjut, penguatan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), pengawasan fasilitas pengolahan sel dan jaringan manusia, serta harmonisasi regulasi dengan standar internasional seperti WHO, US FDA, dan European Medicines Agency (EMA).
Indonesia Ingin Perkuat Posisi di Kancah Global
Taruna menilai pengakuan internasional terhadap Indonesia dalam bidang regulasi kesehatan menjadi momentum penting untuk mempercepat pembangunan ekosistem inovasi nasional.
Ia menyinggung pengukuhannya sebagai Adjunct Professor of Pharmacology di UTMSPACE pada Mei 2026 sebagai simbol meningkatnya perhatian dunia terhadap peran Indonesia dalam diplomasi regulasi kesehatan global.
Menurut dia, sejumlah negara Asia Tenggara saat ini berlomba mengembangkan ekosistem inovasi biomedis, termasuk Singapura yang menjadi pusat precision medicine di Asia serta Malaysia dan Thailand yang memperkuat terapi sel dan regenerative medicine.
Taruna menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing karena didukung jumlah penduduk yang besar, kekayaan biodiversitas, kapasitas pasar yang luas, dan sumber daya manusia yang terus berkembang.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam revolusi kesehatan dunia. Saatnya menjadi pemain utama yang mampu menghadirkan inovasi, regulasi, dan diplomasi kesehatan berbasis sains di tingkat global,” tegasnya.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Pengembangan terapi gen dan terapi sel dipandang sebagai bagian penting dari masa depan layanan kesehatan yang lebih personal dan efektif.
Dengan dukungan regulasi yang kuat serta kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi pusat pengembangan bioteknologi kesehatan di kawasan.
Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu memperkuat kemandirian industri farmasi nasional dan meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi kesehatan berteknologi tinggi.
- Penulis :
- Aditya Yohan





