
Pantau - Anggota MPR Dr. Atalia Praratya, S.I.P., M.I.Kom. mengungkapkan sekalipun Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang dipenuhi media sosial, video pendek, dan informasi real time, yang membuat mereka cenderung menginginkan informasi yang singkat, visual, dan langsung pada inti pesan, tetapi tidak berarti tingkat literasi Gen Z rendah. Sebaliknya, Gen Z adalah generasi yang paling aktif membaca dibanding Generasi Milenial dan Generasi X.
“Hasil sebuah lembaga survei Jakpat menunjukkan Gen Z adalah generasi yang paling aktif membaca,” katanya dalam seminar perpustakaan dengan tema “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Gak Sih?” di Ruang Galunggung Lantai 4, Gedung A, Universitas Widyatama, Bandung, Senin (22/6/2026).
Seminar hasil kerja sama Perpustakaan MPR RI dengan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama juga menghadirkan narasumber Direktur Utama (CEO) Narabahasa, Ivan Razela Lanin, S.T., M.T., dan Kepala Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama, Haria Saputry Wahyuni, S.I.Pus., M.I.Kom.
Gen Z Jadi Generasi Paling Aktif Membaca
Mengutip hasil survei Jakpat, Atalia mengungkapkan persentase aktivitas membaca Gen Z mencapai 26%, lebih tinggi dibandingkan Milenial yang mencapai 20% dan Gen X yang mencapai 18%. Jenis bacaan yang disukai Gen Z antara lain artikel dari portal daring, buku fisik, dan buku elektronik (e-book).
Atalia menjelaskan Gen Z adalah generasi yang lahir pada 1997-2012 dengan jumlah 24,93%, menjadi generasi terbesar di Indonesia dibandingkan generasi milenial yang lahir pada 1981-1996 (24,34%) dan baby boomer (10,31%).
“Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi. Mereka cepat beradaptasi, mengakses informasi secara instan, kritis terhadap isu sosial, serta memiliki karakter yang mandiri, kreatif, dan kolaboratif dalam belajar maupun berkarya,” jelas politisi yang juga aktif sebagai dosen Universitas Widyatama ini.
Untuk menarik minat baca Gen Z, Atalia menyarankan untuk mengubah perpustakaan menjadi tempat berkumpul dan berkarya atau knowledge hub. Sebab, banyak Gen Z mencari tempat belajar, tempat diskusi, tempat membuat konten, dan tempat networking.
“Perpustakaan bisa diubah menjadi co-working space gratis, ruang komunitas, ruang diskusi publik, studio podcast sederhana, dan ruang editing video,” ujar Atalia yang sering disapa “Bu Cinta”.
Selain itu, Atalia mengharapkan perpustakaan juga masuk ke platform yang digunakan Gen Z seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Perpustakaan juga harus memperluas koleksi yang relevan dan kekinian karena Gen Z tidak selalu belajar dari buku. Mereka belajar dari podcast, video edukasi, e-book, jurnal, infografis, dan newsletter.
“Jadi citra yang ingin dibangun adalah perpustakaan sebagai ruang eksplorasi ide,” katanya.
Senada dengan Atalia, pembicara kedua Ivan Razela Lanin juga sependapat bahwa Gen Z adalah generasi yang aktif membaca.
“Gen Z tidak menjauh dari bacaan,” ujarnya.
Selain mengutip hasil survei Jakpat yang menunjukkan aktivitas membaca Gen Z lebih tinggi dibanding Generasi Milenial dan Generasi X, Ivan juga mengutip data dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) mengalami kenaikan dari 66,7 pada tahun 2023 menjadi 72,44 pada tahun 2024, serta data GoodStats tahun 2024 yang menunjukkan 84,7% responden Gen Z mengaku gemar membaca buku.
Lebih jauh, Ivan mengatakan bahwa menjadi pembaca bukanlah soal fasilitas, melainkan soal identitas.
“Saya membaca karena saya memutuskan bahwa saya adalah orang yang membaca,” katanya.
Artinya, kebiasaan membaca dibangun dari identitas diri, bukan dari koleksi buku.
Karena itu, tugas perpustakaan adalah membantu orang membangun identitas itu, bukan sekadar menyediakan rak-rak buku.
“Perpustakaan perlu menjadi tempat yang membuat orang ingin menjadi pembaca,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber Haria Saputry juga mengungkapkan minat baca Gen Z dari beberapa data seperti Indeks TGM Nasional tahun 2024 yang menunjukkan kenaikan, BookTok dan Bookstagram yang menjadi simbol identitas baru bagi Gen Z, serta adanya tren cafe library berupa ruang baca yang estetik dan nyaman sehingga mendorong kunjungan dan minat literasi Gen Z.
Dalam perspektif yang berbeda dari pembicara sebelumnya, Haria lebih menyoroti literasi di kalangan Gen Z sebagai sebuah stress therapy. Menurut Haria, salah satu karakteristik Gen Z adalah sering merasa cemas (anxiety). Di sisi lain, kegiatan membaca membuat hati tenang dan detak jantung lebih teratur. Dalam kaitan itu, membaca atau literasi menjadi sebuah stress therapy.
Menurut Haria, literasi bisa menjadi stress therapy bagi Gen Z yang rentan.
“Dengan memilah informasi bisa menjadi kunci kesehatan mental. Dengan membaca fiksi maka bisa meningkatkan empati dan mengurangi kecemasan, dengan membaca lambat maka akan melatih fokus, kesabaran, dan kemampuan duduk dengan ketidaknyamanan, dan ruang baca yang tenang adalah respons alami terhadap kelelahan digital,” katanya.
Perpustakaan MPR RI Jadi Pusat Literasi Konstitusi
Seminar perpustakaan dengan tema “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Gak Sih?” dihadiri Wakil Rektor Bidang Riset, PKM, Inovasi, dan Kerja Sama, Dr. Ir. Didit Damur Rochman, S.T., M.T., IPU., Dekan FISIP Universitas Widyatama, Dr. Soni Akhmad Nulhaqim, S.Sos., M.Si., Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Sekretariat Jenderal MPR RI, Rosando, S.I.K., M.Si., M.H., Pustakawan Madya Perpustakaan MPR RI, Yusniar, S.H., serta diikuti para pustakawan, dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Dekan FISIP Universitas Widyatama, Soni Akhmad Nulhaqim, menyebutkan sedikitnya ada tiga tantangan untuk perpustakaan tanpa batas, sebuah perpustakaan yang bisa diakses masyarakat melalui teknologi. Pertama, sumber daya manusia yang mengelola perpustakaan sehingga menciptakan perpustakaan tanpa batas.
Kedua, infrastruktur meliputi teknologi dan fasilitas lainnya yang membuat masyarakat bisa mengakses perpustakaan tanpa batas. Ketiga, berkaitan dengan modal sosial, yaitu dukungan agar Gen Z bisa mengakses perpustakaan tanpa batas.
“Karena itu tema Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Gak Sih? menjadi menarik untuk diseminarkan. Dengan seminar ini maka bisa dibuktikan apakah Gen Z masih suka membaca lewat perpustakaan tanpa batas,” katanya.
Sementara Wakil Rektor Universitas Widyatama, Didit Damur Rochman, mengatakan dunia saat ini penuh ketidakpastian yang sangat tinggi. Selain itu, ada kompleksitas terkait benang-benang relasi.
“Untuk itu kita membutuhkan ilmu. Dan sumber ilmu ada di perpustakaan. Tema seminar ini menjadi penting untuk menjawab apakah generasi kita adalah generasi scrolling di gadget. Kita tidak mendapat ilmu hanya dari scrolling,” katanya.
Didit Damur Rochman menekankan pentingnya perpustakaan tidak hanya analog, tetapi juga digital.
“Keterkaitan itu ada pada Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi di Universitas Widyatama. Perpustakaan tidak hanya analog, tetapi juga digital sebagai sebuah perpustakaan tanpa batas,” katanya.
Mewakili Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, S.E., M.M., Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Setjen MPR RI, Rosando, menyebutkan bahwa Perpustakaan MPR RI saat ini tengah digagas berkembang menjadi pusat literasi konstitusi.
“Perpustakaan MPR adalah perpustakaan khusus. Sejarah demokrasi dan sejarah konstitusi ada di MPR. Kami sedang mendigitalisasi koleksi Perpustakaan MPR, khususnya yang berkaitan dengan produk hukum MPR agar bisa diakses masyarakat dengan mudah,” katanya.
Lebih lanjut Rosando mengatakan MPR RI sedang menyosialisasikan Perpustakaan MPR menjadi pusat literasi konstitusi. Untuk itu Rosando mengharapkan dukungan dari berbagai pihak termasuk perguruan tinggi.
Dalam seminar ini, Pustakawan Ahli Madya Satrya Yudha Hartanto, S.E., memperkenalkan Perpustakaan MPR kepada para peserta seminar. Pemaparan meliputi visi dan misi Perpustakaan MPR, layanan Perpustakaan MPR, kekhususan Perpustakaan MPR, jenis-jenis koleksi buku Perpustakaan MPR, serta beberapa contoh koleksi buku MPR.
- Penulis :
- Shila Glorya





