HOME  ⁄  Nasional

Mendiktisaintek Tegaskan Transformasi Pendidikan Tinggi Harus Ditopang Budaya Riset

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Mendiktisaintek Tegaskan Transformasi Pendidikan Tinggi Harus Ditopang Budaya Riset
Foto: (Sumber : Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto membawakan pidato pada kegiatan The Global Sustainable Development Congress 2026, yang digelar di Tangerang Selatan, Selasa (23/6/2026). ANTARA/HO-Kemdiktisaintek.)

Pantau - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan transformasi pendidikan tinggi di Indonesia harus ditopang oleh penguatan kualitas, pemerataan kapasitas antarkampus, serta pembangunan budaya riset dan sains yang kuat.

Pernyataan tersebut disampaikan Brian Yuliarto sebagai bagian dari upaya mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi lebih unggul dan berdaya saing global.

Budaya Riset Jadi Fondasi Perguruan Tinggi Unggul

Brian menekankan bahwa tujuan penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tujuan akhir dari penelitian adalah apa yang dapat kita sumbangkan kepada masyarakat. Karena pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang menyelesaikan penelitian dan menerbitkannya. Lebih dari itu, bagaimana kita dapat menghadirkan dampak dari pekerjaan, pengetahuan, dan penelitian kita bagi masyarakat,” ungkap Brian Yuliarto.

Menurutnya, budaya riset dan sains merupakan fondasi utama dalam membangun perguruan tinggi yang kompetitif di tingkat global.

Ia menilai laboratorium memiliki peran sentral dalam menciptakan budaya penelitian yang produktif sebagaimana diterapkan di berbagai perguruan tinggi bereputasi dunia.

Brian juga menyoroti pentingnya peran dosen dan profesor dalam membangun atmosfer akademik yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan.

Kemdiktisaintek Perkuat Kolaborasi Antarkampus

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara merata, Kemdiktisaintek mendorong terciptanya jejaring kolaborasi yang kuat antarkampus di seluruh Indonesia.

“Saat ini, kami mengembangkan sistem mentorship, dimana perguruan tinggi yang lebih maju menjadi mentor dan coach bagi perguruan tinggi lainnya. Kami juga membangun jejaring antarkampus, karena dengan jumlah perguruan tinggi yang sangat besar di Indonesia, kolaborasi dan kerja sama merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara bersama-sama,” ujarnya.

Melalui visi “Diktisaintek Berdampak”, Kemdiktisaintek menempatkan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai penggerak transformasi sosial dan ekonomi nasional.

Fokus tersebut diarahkan pada delapan sektor prioritas strategis, yakni ketahanan pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, digitalisasi dan kecerdasan artifisial, semikonduktor, manufaktur maju, serta hilirisasi dan industrialisasi.

Brian juga mengajak seluruh mitra global untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun masa depan yang inklusif, sejahtera, dan berkelanjutan melalui pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

Penulis :
Aditya Yohan