HOME  ⁄  Nasional

Akademisi Unej Nilai Kampus Berperan Penting Perkuat Tata Kelola Program MBG

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Akademisi Unej Nilai Kampus Berperan Penting Perkuat Tata Kelola Program MBG
Foto: (Sumber : Akademisi FH Unej sekaligus Ketua Dewan Pakar ICMI Jember Dr. Aries Harianto. ANTARA/HO-Humas Unej)

Pantau - Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej) sekaligus Ketua Dewan Pakar ICMI Jember Dr Aries Harianto menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat tata kelola Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui pendekatan ilmiah dan multidisipliner.

Aries menegaskan kampus tidak boleh bersikap pasif terhadap pelaksanaan program MBG, namun juga tidak seharusnya mengambil peran sebagai operator layanan makanan yang berada di luar mandat utama perguruan tinggi.

“Perguruan tinggi tidak boleh bersikap pasif terhadap pelaksanaan program MBG, namun kampus tidak seharusnya mengambil peran sebagai operator program layanan makanan yang berada di luar mandat utama perguruan tinggi,” katanya di Jember, Jawa Timur, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, perguruan tinggi harus tetap menjaga fungsi utama sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Aries mengatakan kampus dibangun untuk mencetak sumber daya manusia unggul, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memberikan kontribusi pemikiran dalam penyelesaian berbagai persoalan bangsa.

Ia mengingatkan perguruan tinggi harus berhati-hati agar tidak bergeser menjadi lembaga yang menjalankan fungsi operasional di luar tugas pokoknya.

“Perguruan tinggi dibangun untuk mencetak sumber daya manusia unggul, mengembangkan ilmu pengetahuan melalui riset, serta memberikan kontribusi pemikiran bagi penyelesaian persoalan bangsa. Kampus harus berhati-hati agar tidak bergeser menjadi lembaga yang menjalankan fungsi operasional di luar tugas pokoknya," ungkapnya.

Menurut Aries, sejumlah perguruan tinggi telah menyampaikan pandangan kritis terkait gagasan pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh kampus karena muncul kekhawatiran mengenai independensi akademik, peningkatan beban administratif, serta pergeseran fokus dari kegiatan akademik ke aktivitas operasional.

“Fungsi kontrol sosial dan akademik merupakan bagian penting dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan bangsa. Kampus harus tetap memiliki ruang yang cukup untuk melakukan kajian, memberikan kritik konstruktif, serta menawarkan solusi atas berbagai persoalan publik,” katanya.

Aries menjelaskan masih banyak aspek dalam program MBG yang membutuhkan perhatian serius, mulai dari keamanan pangan, sanitasi, kualitas bahan makanan, tata kelola distribusi, sistem pengawasan, kompetensi sumber daya manusia, hingga mekanisme pertanggungjawaban hukum.

Ia menilai ruang kontribusi utama perguruan tinggi berada pada penyediaan kajian ilmiah, evaluasi program, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga mitigasi risiko.

“Di sana ruang kontribusi perguruan tinggi yang sesungguhnya. Kampus dapat melakukan riset, menyusun rekomendasi kebijakan, melakukan evaluasi program, menyiapkan sistem mitigasi risiko, hingga memberikan pendampingan hukum dan sosial jika diperlukan. Kampus berperan sebagai pendamping berbasis ilmu pengetahuan, bukan sebagai pelaksana operasional,” ujarnya.

Aries menegaskan keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah dapur atau satuan pelayanan yang dibentuk, tetapi juga kualitas tata kelola, transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas pengawasan.

“Perguruan tinggi memiliki modal intelektual yang sangat besar untuk membantu negara menyempurnakan kebijakan publik. Kontribusi terbaik kampus adalah menghadirkan kajian, data, inovasi, dan rekomendasi yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan,” katanya.

Penulis :
Ahmad Yusuf