HOME  ⁄  Nasional

Pakar UNAND Rekomendasikan Dadih sebagai Pangan Lokal untuk Membantu Cegah Tengkes

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar UNAND Rekomendasikan Dadih sebagai Pangan Lokal untuk Membantu Cegah Tengkes
Foto: (Sumber :Pakar sekaligus Guru Besar dari Fakultas Kesehatan, Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat (Sumbar) Prof Helmizar saat menyampaikan orasi ilmiah di Padang, Sabtu, (27/6/2026). ANTARA/HO-Humas Universitas Andalas.)

Pantau - Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Kesehatan Universitas Andalas (UNAND) Prof. Helmizar merekomendasikan konsumsi dadih, pangan fermentasi tradisional asal Sumatera Barat, sebagai salah satu upaya pencegahan tengkes (stunting) karena kaya protein, asam amino esensial, mineral, dan probiotik.

Penelitian Tunjukkan Manfaat bagi Ibu dan Anak

Prof. Helmizar menyampaikan rekomendasi tersebut saat pengukuhannya sebagai guru besar bidang ilmu gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAND, Padang, Sabtu.

"Dadih merupakan fermentasi susu kerbau tradisional yang kaya protein, asam amino esensial, mineral serta mengandung bakteri asam laktat yang berfungsi sebagai probiotik," ungkapnya.

Ia menjelaskan penelitian intervensi pada ibu hamil menunjukkan suplementasi dadih, baik sendiri maupun dikombinasikan dengan zink, memberikan manfaat terhadap status gizi ibu.

Menurutnya, intervensi tersebut mampu meningkatkan status mikronutrien, memperbaiki sistem imun ibu dan bayi, menurunkan prevalensi defisiensi zink pada ibu hamil, serta meningkatkan kadar secretory Immunoglobulin A sebagai indikator penting sistem kekebalan mukosa.

"Selain itu, bayi yang lahir dari ibu yang mendapatkan intervensi menunjukkan kecenderungan memiliki status kesehatan dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol," ujarnya.

Pola Asuh Juga Berperan Penting

Prof. Helmizar mengatakan penelitian lanjutan hingga anak berusia dua tahun menunjukkan prevalensi stunting, kurang gizi, dan kurus cenderung lebih rendah pada kelompok yang ibunya mendapat suplementasi dadih dan zink selama kehamilan dibandingkan kelompok kontrol.

Ia menambahkan hasil penelitian terhadap perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik menggunakan instrumen Bayley Scale III menunjukkan sebagian besar anak berada pada kategori perkembangan normal hingga superior.

Menurutnya, upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan intervensi gizi, tetapi juga membutuhkan dukungan selama 1.000 hari pertama kehidupan melalui pola asuh yang tepat.

Ia menyebut pola asuh berbasis kearifan lokal di Sumatera Barat yang dikenal sebagai Manjujai juga terbukti mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional anak.

Penulis :
Ahmad Yusuf