
Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak para santri menyeimbangkan produktivitas dengan spiritualitas saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus XXI Pondok Pesantren Al-Amin di Kota Mojokerto, Sabtu, karena keseimbangan tersebut dinilai penting untuk meraih kesuksesan sekaligus keberkahan dalam kehidupan.
Pentingnya Keseimbangan Produktivitas dan Spiritualitas
Khofifah mengatakan tradisi pendidikan pesantren telah membuktikan pentingnya keseimbangan antara usaha lahir dan ikhtiar batin sebagai fondasi dalam membentuk pribadi yang tangguh, berintegritas, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
"Jadi, memberseiringi kerja-kerja produktif dengan berbagai ikhtiar-ikhtiar spiritualitas itu menjadi penting," ungkap Khofifah.
Khofifah menyampaikan nilai keberkahan terus diupayakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik melalui misi Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Amanah dan Jatim Berkah.
"Berkah itu tidak mudah. Bagaimana kita hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dan terus besok lebih baik dari hari ini. Semua sektor, semua lini, semua level masyarakat," ujarnya.
Khofifah juga berpesan kepada para santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Amin agar tidak melupakan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren, tetap menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari, serta mempertahankan semangat belajar meski telah lulus.
Proses Panjang Menuju Kesuksesan
Khofifah menuturkan kesuksesan memerlukan proses panjang, sehingga ikhtiar batin atau penguatan spiritual harus berjalan seiring dengan usaha lahir dalam mencapai keberhasilan.
"Untuk para santri, saya ingin menyampaikan bahwa ada proses panjang yang harus kita lakukan. Bukan bimsalabim. Proses ini yang saya jalani dari masih di DPR hingga jadi menteri termuda yang pernah dilantik sebelum akhirnya jadi gubernur," katanya.
"Maaf ini sebagai tahadus bini'mah. Apa yang saya lalui bukan sesuatu yang mudah, karena saya bukan anak jenderal, bukan anak guru besar, bukan anak kyai besar," lanjutnya.
Khofifah menjelaskan keberhasilan yang diraihnya merupakan hasil dari proses panjang serta nilai pengabdian yang ditanamkan melalui pendidikan pesantren.
"Waktu itu Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) bertanya, apa bedanya peranan wanita dengan pemberdayaan perempuan? Saya jawab, kalau peranan wanita itu women's role sedangkan pemberdayaan perempuan itu women empowerment. Akhirnya sama beliau nama kementerian itu diubah,” tuturnya.
“Yang ingin saya sampaikan pada para santri, ada proses panjang. Ada pengabdian panjang yang penguatan-penguatannya itu ditanamkan luar biasa di pesantren. Maka apa yang kita kerjakan sekarang, insya Allah nanti akan ketemu derajat yang mulia," tambahnya.
Pesantren Bekali Santri dengan Karakter dan Keterampilan
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Amin yang didirikan pada tahun 2000 oleh lima tokoh, salah satunya Pelaksana Tugas Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Akhmad Jazuli yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin.
Akhmad Jazuli mengatakan Pondok Pesantren Al-Amin didirikan bukan hanya untuk mencetak santri yang berilmu, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, nilai kesederhanaan, dan sikap tawadhu.
"Santri yang akan dilepas hari ini harus tetap menjaga jati dirinya sebagai santri. Akhlakul karimah, ilmu yang diamalkan dan amal yang ilmiah harus terus dipegang. Jangan sampai setelah keluar dari pondok lalu lupa pada pesantrennya. Saya bersyukur Jawa Timur memiliki gubernur dari kalangan pesantren seperti Ibu Khofifah,” ungkap Akhmad Jazuli.
Akhmad Jazuli menambahkan Pondok Pesantren Al-Amin juga membekali santri dengan berbagai keterampilan melalui program vokasi dan pelatihan hidroponik agar siap kembali serta berkontribusi di tengah masyarakat.
- Penulis :
- Shila Glorya





