HOME  ⁄  Nasional

Rumah Sastra Ahmad Tohari Dinilai Jadi Pusat Literasi dan Ruang Pembelajaran Masyarakat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Rumah Sastra Ahmad Tohari Dinilai Jadi Pusat Literasi dan Ruang Pembelajaran Masyarakat
Foto: (Sumber:Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meresmikan penataan dan pembenahan aset budaya Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari sebagai komitmen pemerintah dalam menjaga warisan sastra Indonesia.)

Pantau - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Rumah Sastra Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang tidak hanya menjaga warisan intelektual sastrawan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan inspirasi bagi masyarakat.

Peresmian Rumah Sastra Ahmad Tohari menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Kementerian Kebudayaan dalam mendukung inisiatif pemajuan kebudayaan yang berasal dari komunitas.

Fadli Zon mengungkapkan, "Setiap hari, perpustakaan dan rumah baca tersebut dikunjungi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memanfaatkan koleksi dan berbagai aktivitas literasi yang diselenggarakan."

Pusat Literasi dan Kantong Budaya

Fadli Zon berharap Rumah Sastra Ahmad Tohari terus berkembang sebagai perpustakaan yang aktif dan menjadi ruang kegiatan kebudayaan yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, "Rumah baca perpustakaan Ahmad Tohari ini bisa menjadi perpustakaan yang hidup, bisa menjadi kantong budaya dan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang terus berkesinambungan."

Fadli Zon menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi pemajuan kebudayaan, termasuk revitalisasi aset budaya.

Ia mengungkapkan, "Meskipun kita sedang melakukan efisiensi, kita bisa melakukan revitalisasi di sekitar 159 aset budaya, baik situs cagar budaya maupun yang merupakan kantong budaya. Bapak Ahmad Tohari ini menginisiasi satu kantong budaya yang menggerakan generasi muda untuk membaca, semacam pusat literasi."

Ahmad Tohari menyambut baik program revitalisasi tersebut dan menyampaikan perpustakaan yang dikelolanya ramai dikunjungi masyarakat serta menjadi tempat berlangsungnya berbagai diskusi lintas generasi.

Dorong Penguatan Sastra Indonesia

Fadli Zon menilai semangat Ahmad Tohari sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 karena menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, identitas bangsa, dan kearifan lokal melalui karya sastra.

Ahmad Tohari dikenal melalui berbagai karya sastra Indonesia, termasuk novel "Ronggeng Dukuh Paruk" yang mengangkat kehidupan masyarakat Banyumas, nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, serta kekhasan bahasa Banyumasan.

Novel tersebut juga telah diadaptasi menjadi film "Sang Penari", sehingga memperluas apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya Banyumas.

Menurut Fadli Zon, sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tertua yang berperan merekam perjalanan sejarah, membangun karakter bangsa, dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia.

Ia menilai tantangan saat ini adalah keterhubungan karya sastra Indonesia dengan pembaca internasional yang belum optimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kebudayaan menghadirkan berbagai program strategis, antara lain Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra Berbasis Intellectual Property (IP).

Penulis :
Gerry Eka