HOME  ⁄  Nasional

Kemendukbangga Dorong Menu Makan Bergizi Gratis Berbasis Protein untuk Cegah Stunting

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kemendukbangga Dorong Menu Makan Bergizi Gratis Berbasis Protein untuk Cegah Stunting
Foto: Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN (depan, kiri) memberikan MBG 3B kepada penerima manfaat di Kembang Basen, DI Yogyakarta, Minggu (28/6/2026)

Pantau - Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menekankan pentingnya penyajian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis protein bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) agar intervensi penurunan stunting lebih efektif.

Menu Protein Dinilai Lebih Efektif

Pernyataan tersebut disampaikan Budi Setiyono saat berdialog bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kembang Basen, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33.

Budi mengungkapkan, "Dari sisi keterpenuhan gizi, memang kalau tujuannya adalah penanganan stunting, yang diutamakan adalah protein. Untuk karbohidrat maupun sayur-mayur barangkali tidak terlalu urgent, tetapi yang diutamakan seharusnya adalah protein, apakah telur, daging, ikan, atau menu lain yang menunjang kecukupan protein."

Budi mengumpulkan berbagai usulan dari para TPK untuk menyempurnakan kebijakan MBG, khususnya bagi kelompok 3B.

Menurut Budi, di tingkat lapangan sebenarnya telah terbentuk ekosistem yang mendukung pelaksanaan program.

Ekosistem tersebut melibatkan posyandu, kader TPK, dan puskesmas.

Dari sisi pembiayaan, menurut Budi, juga telah tersedia dukungan melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dari Kementerian Kesehatan.

Usulan Akan Disampaikan kepada BGN

Budi menilai keberadaan program MBG dapat menyempurnakan ekosistem yang sudah berjalan.

Budi mengungkapkan, "Ternyata di bawah itu sudah ada satu ekosistem yang sebenarnya terbentuk, dari posyandu, kader TPK, maupun puskesmas. Dari segi pembiayaan juga demikian, ada dana dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Kementerian Kesehatan, sehingga keberadaan MBG sebenarnya bisa menyempurnakan ekosistem tersebut. Hanya saja, tadi kita mendengarkan bahwa barangkali perlu dioptimalkan dari sisi menu dan tata kelolanya."

Ia menegaskan diskusi berbasis masyarakat dan hasil pemantauan lapangan dapat menjadi usulan konkret untuk penyempurnaan kebijakan MBG bagi Badan Gizi Nasional (BGN).

Usulan tersebut akan menjadi bahan penyusunan menu khusus bagi kelompok 3B.

Budi mengatakan perlu dicari intervensi menu MBG 3B yang lebih efektif untuk mencegah kehamilan berisiko stunting.

Menu tersebut juga diharapkan mampu mencegah bayi lahir stunting.

Selain itu, menu MBG 3B harus mendukung proses pertumbuhan anak hingga usia lima tahun.

Hasil koordinasi dan usulan tersebut akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional.

Budi mengungkapkan, “Kita perlu mencari intervensi menu MBG 3B yang lebih efektif dalam konteks mencegah kehamilan berisiko stunting maupun bayi lahir stunting, dan mendukung proses pertumbuhan anak sampai usia lima tahun, sehingga nanti hal ini juga akan kami sampaikan dalam tahap-tahap koordinasi, terutama dengan BGN, agar penyajian menu khusus untuk 3B disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.”

Penulis :
Gerry Eka