
Pantau - Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menyatakan Gelar Melayu Serumpun (Gemes) 2026 yang dihadiri sejumlah negara sahabat menjadi momentum untuk memperkuat tali persaudaraan antarbangsa dan negara sekaligus memperkuat peran budaya Melayu sebagai sarana diplomasi.
Gemes Jadi Ajang Diplomasi dan Pelestarian Budaya
Rico Waas mengatakan Gemes tidak hanya menjadi festival budaya, tetapi juga menjadi wadah mempererat hubungan dengan negara-negara sahabat yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ia mengungkapkan, "Kegiatan Gemes tidak hanya sebatas festival, tetapi sebagai ajang memperkuat tali persaudaraan antar bangsa dan negara."
Menurut Rico, budaya Melayu bukan sekadar identitas etnis, melainkan jiwa yang harus dijunjung tinggi dan terus dilestarikan oleh masyarakat.
Ia mengatakan, "Kebudayaan Melayu bukan sekedar warisan masa lalu, tetapi instrumen penting sebagai soft diplomacy untuk memperkuat posisi bangsa di Internasional."
Gemes 2026 melibatkan enam negara, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Korea Selatan, dan China, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan budaya lintas negara.
Pemkot Medan Buka Ruang Pelestarian Budaya Melayu
Rico menegaskan Pemerintah Kota Medan berkomitmen membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga, merawat, dan melestarikan budaya Melayu.
Ia mengungkapkan, "Kami terus bersinergi dan membuka ruang komunikasi yang erat dengan pemangku kebijakan terkait agar bisa merawat budaya Melayu di Kota Medan."
Gelar Melayu Serumpun ke-9 berlangsung pada 27 hingga 30 Juni 2026 di Lapangan Merdeka, Kota Medan.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan Odi Batubara mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengakrabkan budaya Melayu kepada masyarakat non-Melayu, baik dari tingkat lokal, nasional, maupun mancanegara.
Ia mengatakan, "Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperteguh marwah dan jati diri suku bangsa Melayu melalui kegiatan seni budaya."
- Penulis :
- Aditya Yohan





