
Pantau - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mendorong perbaikan tata kelola ekspor sarang burung walet agar produk Indonesia dapat terserap secara maksimal di pasar internasional setelah 19 perusahaan eksportir terkena suspend oleh negara tujuan ekspor akibat produk mengandung aluminium.
Barantin Terima Masukan Pelaku Usaha
Abdul Kadir Karding mengatakan perbaikan tata kelola dilakukan agar ekspor sarang burung walet, terutama yang berkualitas premium, dapat memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh negara tujuan.
Barantin menggelar audiensi dengan asosiasi dan forum sarang burung walet untuk meminta masukan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha dalam menjalankan bisnis mereka.
Dari hasil pertemuan tersebut, Barantin menerima sejumlah masukan mengenai berbagai kendala yang dihadapi dalam kegiatan ekspor.
Salah satu persoalan utama yang disampaikan adalah adanya sejumlah perusahaan eksportir sarang burung walet yang terkena suspend oleh negara tujuan ekspor.
Abdul Kadir Karding menjelaskan terdapat 19 perusahaan yang terkena suspend karena produk sarang burung walet yang diekspor mengandung aluminium.
Abdul Kadir Karding mengungkapkan, "Karena memang sekarang ini pasar semua komoditas itu ketat sekali dan detail sehingga mau tidak mau kita harus memperbaiki di internal kita, organisasi kita perbaiki."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persyaratan perdagangan internasional kini semakin ketat sehingga diperlukan pembenahan sistem dan tata kelola di lingkungan Barantin maupun pelaku usaha.
Suspend Jadi Prioritas Pembenahan
Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI) Boedi Mranata mengatakan dari total sekitar 50 perusahaan pengekspor sarang burung walet, sebanyak 19 perusahaan terkena suspend oleh negara tujuan ekspor, terutama China.
Boedi Mranata menjelaskan volume ekspor sarang burung walet Indonesia ke China setiap tahun mencapai sekitar 400 hingga 500 ton.
Menurut Boedi Mranata, kebutuhan ekspor tersebut saat ini masih dapat dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang tidak terkena suspend.
Boedi Mranata mengatakan, "Banyak perusahaan kita yang disuspend dan ini isu yang harus dibenahi terlebih dahulu. Karena pemerintah China hingga saat ini tidak mau membuka."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan suspend menjadi prioritas utama agar akses perusahaan Indonesia ke pasar China dapat kembali dibuka.
- Penulis :
- Arian Mesa





