
Pantau - Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan Marinus Gea menegaskan Relawan Kebajikan Pancasila harus menjadi teladan dalam menghidupkan nilai-nilai Pancasila saat menghadiri kegiatan Penguatan Relawan Kebajikan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia, Tangerang, Kamis (2/7/2026).
Marinus menyampaikan Indonesia dibangun di atas kesepakatan luhur bernama Pancasila yang menjadi titik temu kebangsaan, rumah bersama, sekaligus jalan tengah yang mempersatukan keberagaman masyarakat Indonesia.
Ia menegaskan nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebatas pemahaman atau hafalan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata agar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Ia mengungkapkan, “Pancasila harus dihidupi. Pancasila harus diwujudkan. Pancasila harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai Kebajikan Pancasila.”
Ia juga mengatakan, “Sesungguhnya ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa banyak orang menghafal lima sila, melainkan seberapa banyak nilai lima sila itu hidup dalam kehidupan bangsa.”
Tantangan Implementasi Nilai Pancasila
Dalam kegiatan tersebut, Marinus turut menyoroti pentingnya Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurutnya, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan lagi terletak pada pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan, melainkan pada implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengungkapkan, “Kita menyaksikan masih adanya intoleransi. Masih adanya korupsi. Masih adanya ketidakadilan sosial. Masih adanya penyalahgunaan teknologi digital. Masih adanya budaya saling mencurigai dan saling menyerang di ruang publik.”
Marinus menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, tetapi masih membutuhkan lebih banyak keteladanan dan penggerak kebajikan.
Ia mengatakan, “Artinya, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Persoalan kita adalah kekurangan keteladanan. Kekurangan penggerak kebajikan. Kekurangan warga negara yang bersedia menjadi contoh.”
Relawan Kebajikan Pancasila Didorong Menjadi Gerakan Moral
Marinus menjelaskan kehadiran Relawan Kebajikan Pancasila merupakan upaya mengubah pendekatan pembinaan ideologi dari penyampaian materi menjadi gerakan pembentukan karakter masyarakat.
Ia menerangkan, “Dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan kebajikan sosial. Dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi karakter. Dari sekadar memahami nilai menjadi menghidupi nilai. Di sinilah lahir gagasan Relawan Kebajikan Pancasila.”
Marinus menegaskan Relawan Kebajikan Pancasila bukan organisasi yang dibentuk untuk kepentingan politik elektoral maupun kelompok tertentu, melainkan gerakan moral kebangsaan yang menghimpun warga negara agar menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Ia menjelaskan, “Perubahan bangsa tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan bangsa sering kali dimulai dari keteladanan. Karena itu, sesungguhnya kekuatan bangsa bukan terletak pada gedung-gedung yang megah, bukan pada teknologi yang canggih, bukan pada sumber daya alam yang melimpah. Kekuatan bangsa terletak pada karakter manusianya.”
Menjelang terwujudnya visi Indonesia Emas 2045, Marinus mengingatkan bahwa bangsa yang maju tidak hanya ditentukan oleh kekayaan, tetapi juga oleh karakter, integritas, keadilan, dan kepedulian sosial.
Ia menegaskan, “Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya berbicara tentang kebaikan. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang melakukan kebaikan. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya menghafal Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang menghidupi Pancasila.”
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





