HOME  ⁄  Nasional

Lestari Moerdijat Menegaskan Angka Anak Tidak Sekolah Harus Diatasi dengan Intervensi Tepat dan Kolaborasi Semua Pihak

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Lestari Moerdijat Menegaskan Angka Anak Tidak Sekolah Harus Diatasi dengan Intervensi Tepat dan Kolaborasi Semua Pihak
Foto: (Sumber :Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa angka anak tidak sekolah harus diatasi dengan langkah intervensi yang tepat dan kolaborasi semua pihak, Kamis (2/7/2026). Data Kemendikdasmen per 1 April 2026 mencatat 3.966.858 anak usia sekolah belum mengakses pendidikan..)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan angka anak tidak sekolah di Indonesia harus segera diatasi melalui langkah intervensi yang tepat dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menyusul data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 1 April 2026 yang mencatat 3.966.858 anak usia sekolah belum mengakses pendidikan.

Lestari menyampaikan persoalan anak tidak sekolah masih menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan langkah nyata dari berbagai pihak.

Ia mengungkapkan, “Langkah nyata dan kolaborasi pihak-pihak terkait harus segera diambil untuk mengatasi angka anak tidak sekolah, selain langkah intervensi yang tepat.”

Data Anak Tidak Sekolah Jadi Alarm Serius

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 1 April 2026, sebanyak 1.913.633 anak belum pernah sekolah, 986.755 anak putus sekolah, dan 1.066.470 anak lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Lestari menilai data tersebut menjadi peringatan serius sehingga pemerintah tidak boleh berhenti pada pendataan semata.

Ia mengatakan, “Angka ini alarm serius. Kita tidak bisa hanya berhenti pada data. Dibutuhkan langkah nyata dengan memanfaatkan data terkini agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.”

Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Lestari mendorong optimalisasi pemanfaatan data anak tidak sekolah hingga tingkat desa serta adanya political will dari para pemangku kepentingan untuk mempercepat penanganan persoalan tersebut.

Ia menegaskan, “Dengan data akurat, bantuan seperti peralatan pembelajaran jarak jauh, Program Indonesia Pintar, dan beasiswa bisa tepat sasaran.”

Pendidikan Kesetaraan dan Vokasi Perlu Diprioritaskan

Lestari juga mendorong agar pendidikan kesetaraan nonformal seperti Paket A, Paket B, dan Paket C serta pendidikan vokasi berbasis keterampilan kerja menjadi prioritas dalam mengurangi angka anak tidak sekolah.

Menurutnya, lulusan program tersebut harus dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan kewirausahaan agar memiliki peluang kerja yang lebih baik.

Ia menambahkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik mencatat bahwa dari total 86,34 persen anak yang mengenyam pendidikan SLTA, sebanyak 33,21 persen di antaranya putus sekolah karena persoalan ekonomi dan akses pendidikan.

Ia menegaskan, “Seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah harus bergerak bersama. Saatnya memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari layanan pendidikan.”

Penulis :
Ahmad Yusuf