HOME  ⁄  Nasional

Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dikendalikan, KLH/BPLH Gunakan Drone Termal dan Operasi TMC untuk Percepat Pemadaman

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dikendalikan, KLH/BPLH Gunakan Drone Termal dan Operasi TMC untuk Percepat Pemadaman
Foto: Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Faisal Malik Hendropriyono memberikan pernyataan resmi terkait penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (4/7/2026). Sumber: ANTARA/Azmi Samsul M

Pantau - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, sulit dikendalikan karena karakteristik api yang merambat di bawah tumpukan sampah dan menghasilkan gas metana berbahaya.

Kebakaran tersebut dilaporkan mencakup area sekitar 15 hektare dan membutuhkan penanganan lintas instansi dengan metode darat, udara, serta rekayasa cuaca.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyebutkan bahwa api tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga merambat di bawah lapisan sampah yang tebal.

Ia mengatakan bahwa "api di bawah permukaan dapat terus menyala kembali", ia mengungkapkan terkait tantangan pemadaman di lokasi.

Kondisi Kebakaran dan Risiko Gas Metana

Api yang berada di bawah tumpukan sampah menyebabkan pemadaman tidak dapat dilakukan hanya dengan penyiraman dari atas.

Gas metana (CH4) yang terbentuk di lokasi juga meningkatkan risiko ledakan serta memperburuk kondisi kebakaran.

Diaz menjelaskan bahwa kualitas udara di lokasi sempat mencapai angka sekitar 1.000 sebelum menurun drastis akibat upaya penanganan awal.

Pemerintah mengerahkan dua mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara yang mencakup parameter SO2, NO2, serta partikel PM1.0 dan PM2.5.

Strategi Pemadaman dan Teknologi Pemantauan

KLH/BPLH akan menggunakan teknologi thermal drone untuk mendeteksi radiasi panas dan memetakan titik api secara berkala.

Kementerian Kehutanan mengerahkan 30 personel Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat untuk membantu pemadaman dengan peralatan bertekanan tinggi.

Metode injeksi air ke titik api bawah tanah digunakan karena dinilai lebih efektif dibanding penyiraman dari permukaan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BMKG menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mempercepat pemadaman melalui hujan buatan.

Pemerintah menyebutkan bahwa operasi TMC akan dilakukan dalam waktu dekat apabila kondisi cuaca mendukung.

Penanganan terpadu ini diharapkan dapat mempercepat pengendalian kebakaran di TPA Jatiwaringin dan mencegah perluasan dampak lingkungan.

Penulis :
Leon Weldrick