
Pantau - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengajak seluruh pihak membangun ruang publik yang menghormati martabat perempuan serta mendukung terwujudnya kesetaraan gender menyusul polemik lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein.
Soroti Pentingnya Penghormatan terhadap Martabat Perempuan
Arifah menyatakan setiap karya yang dipublikasikan kepada masyarakat, termasuk lagu, perlu mengedepankan penghormatan terhadap perempuan.
Ia mengungkapkan, "Setiap karya yang dipublikasikan kepada masyarakat, termasuk lagu, perlu mengedepankan penghormatan terhadap martabat perempuan, tidak memperkuat stereotip gender, serta tidak memuat narasi yang berpotensi melanggengkan diskriminasi berbasis gender."
Menurutnya, pengalaman biologis perempuan seperti menstruasi, kehamilan, dan keguguran merupakan bagian dari kehidupan yang harus dipahami dengan empati dan penghormatan.
Ia mengungkapkan, "Pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, maupun keguguran, merupakan bagian dari kehidupan yang harus dipahami dengan empati dan penghormatan. Narasi yang menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan candaan atau penggambaran yang merendahkan berpotensi memperkuat stereotip gender yang menghambat terwujudnya kesetaraan perempuan dan laki-laki."
Kebebasan Berekspresi Disertai Tanggung Jawab Sosial
Arifah berharap polemik tersebut menjadi pengingat bahwa karya seni dan budaya memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang, nilai, dan norma sosial masyarakat.
Ia menilai karya seni diharapkan menjadi sarana edukasi yang memperkuat kesetaraan gender, membangun budaya saling menghormati, serta mendukung pencegahan kekerasan berbasis gender melalui perubahan norma sosial.
Arifah mengungkapkan, "Kementerian PPPA menghormati kebebasan berekspresi dan berkesenian sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun kebebasan tersebut juga perlu disertai tanggung jawab sosial dengan mempertimbangkan dampak pesan yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya terhadap kelompok yang masih menghadapi berbagai bentuk ketidaksetaraan dan diskriminasi."
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





