HOME  ⁄  Nasional

Tokoh Muda NU Nilai Rais Aam Berperan Menjaga Batas Politik Organisasi Jelang Muktamar Ke-35

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tokoh Muda NU Nilai Rais Aam Berperan Menjaga Batas Politik Organisasi Jelang Muktamar Ke-35
Foto: (Sumber :Tokoh muda Nadhlatul Ulama (NU) Khalilur Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur (kanan) bersama dengan Menteri Agama Nazaruddin Umar (kiri). ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Pantau - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Khalilur Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menilai Rais Aam memiliki peran penting dalam menjaga batas antara politik kebangsaan dan politik praktis di lingkungan NU menjelang Muktamar Ke-35 yang akan digelar pada 1–5 Agustus 2026.

Rais Aam Dinilai Jaga Independensi Organisasi

Gus Lilur mengatakan peran tersebut sejalan dengan Khittah NU yang membedakan politik kekuasaan atau politik praktis dengan politik kebangsaan.

“Politik kekuasaan dijauhi oleh NU sebagai organisasi, sedangkan politik kebangsaan menjadi panggilan sejarahnya, yakni menjaga keutuhan bangsa, mengawal Pancasila, dan memperjuangkan kemaslahatan umat,” katanya.

Menurutnya, Rais Aam merupakan sosok yang memastikan NU tidak dimanfaatkan sebagai kendaraan politik oleh pihak mana pun.

“Rais Aam harus mampu menjaga NU agar tidak menjadi kendaraan politik siapa pun, termasuk tidak menjadi kendaraan politik NU sendiri,” ujarnya.

Ia menilai besarnya basis massa NU membuat organisasi tersebut selalu menghadapi godaan politik kekuasaan sehingga integritas dan kewibawaan Rais Aam menjadi faktor penting dalam menjaga independensi organisasi.

Muktamar Ke-35 Akan Pilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU

Gus Lilur mengatakan Muktamar Ke-35 NU memiliki makna historis karena menjadi muktamar pertama pada abad kedua perjalanan organisasi setelah NU memasuki usia satu abad.

Menurutnya, forum tersebut bukan hanya menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi juga memilih sosok yang layak menduduki jabatan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam struktur keagamaan NU.

“NU bukan hanya organisasi, melainkan cara beragama. Karena itu, Rais Aam bukan sekadar jabatan, tetapi imamah yang menjadi rujukan, teladan, dan tempat bersandar jutaan umat,” katanya.

Ia menambahkan sejarah NU menunjukkan jabatan Rais Aam hanya layak diemban oleh figur yang memiliki kapasitas keilmuan, keteladanan, dan kewibawaan moral.

Muktamar Ke-35 NU akan memilih anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang selanjutnya bermusyawarah untuk menetapkan Rais Aam serta memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf berharap Muktamar Ke-35 NU tidak dijadikan ajang batu loncatan menuju Pemilu 2029 dan menegaskan PBNU akan menjaga forum tertinggi organisasi itu dari kepentingan politik elektoral.

Penulis :
Ahmad Yusuf