
Pantau - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciangir, Banten, mengembangkan budidaya ayam petelur dengan melibatkan warga binaan dan kini mampu memproduksi sekitar 860 kilogram telur setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan di lapas serta dipasarkan ke sejumlah pasar di Tangerang dan Jakarta.
Budidaya Ayam Petelur Diperluas
Kepala Lapas Ciangir Soesanto Poedji Djatmiko mengatakan hasil produksi telur tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga dipasarkan ke luar daerah.
Ia mengungkapkan, "Kami juga sudah ada kerja sama untuk memasok telur ayam ke perhotelan."
Program budidaya ayam petelur tersebut belum berjalan selama satu tahun.
Saat ini Lapas Ciangir memiliki tiga rumah budidaya ayam.
Setiap rumah budidaya terdiri atas tiga kandang.
Seluruh kandang diisi sekitar 35 ribu ekor ayam petelur.
Pihak lapas berencana menambah populasi ayam hingga mencapai 60 ribu ekor.
Setiap kandang dikelola oleh satu warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Warga binaan bertugas memberikan pakan kepada ayam dan memanen telur.
Warga binaan yang mengikuti program asimilasi di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Ciangir telah melalui asesmen ketat dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Ciangir.
Soesanto mengatakan, "Saat ini lapas dihuni 50 warga binaan, besok akan datang 20 orang lagi. Jadi totalnya 70 warga binaan."
Seluruh warga binaan di Lapas Ciangir dilibatkan dalam program ketahanan pangan.
Peternakan dan Pertanian Jadi Bekal Warga Binaan
Selain budidaya ayam petelur, Lapas Ciangir juga mengembangkan peternakan domba, sapi, ayam kampung, dan ikan.
Lapas Ciangir pada awalnya hanya memiliki 20 ekor domba.
Dalam waktu sekitar 1,5 tahun, jumlah domba meningkat menjadi 85 ekor.
Saat Idul Adha, sebanyak 25 ekor domba berhasil terjual.
Soesanto mengatakan, "Domba-domba ini saat Idul Adha juga kami pasarkan ke pedagang hewan kurban. Bahkan ada yang datang langsung ke kami."
Selain peternakan, Lapas Ciangir mengembangkan budidaya tanaman pakcoy, kale, timun, terong, dan padi.
Luas lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian mencapai 8 hektare dari total 23 hektare yang dimiliki Lapas Ciangir.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten Lili mengatakan warga binaan yang ditempatkan di Lapas Ciangir merupakan narapidana dengan status risiko rendah (minimum security) yang berasal dari berbagai lapas di wilayah Banten dan Jakarta.
Ia mengatakan, "Jadi warga binaan di Lapas Ciangir ini berasal dari lapas-lapas yang ada di wilayah Banten dan Jakarta, yang sudah berstatus risiko rendah dan sudah menjalani setengah masa pidana, berkelakuan baik tentunya, tidak ada catatan buruk."
Lili mengatakan keterlibatan warga binaan dalam program tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap Astacita Presiden dalam mewujudkan ketahanan pangan sesuai program aksi akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.
Ia mengungkapkan, "Mereka selain dilatih keterampilan beternak dan pertanian, mereka juga mendapatkan premi."
Salah satu warga binaan, Mukhriji (21) asal Tangerang, telah menjalani program asimilasi di Lapas Ciangir selama dua bulan dan memilih mengikuti pelatihan di peternakan domba.
Mukhriji mengatakan, "Saya milih mau dilatih di peternakan domba, karena kebetulan di kampung asal saya ada peternakan domba, jadi rencananya ilmunya mau saya gunakan setelah bebas nanti."
Mukhriji memperoleh uang premi sebesar Rp800 ribu setiap bulan yang disimpan sebagai tabungan untuk bekal setelah bebas serta sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di lapas.
Ia mengatakan, “Saya sudah dua bulan di sini. Sebulan itu premi yang saya dapatkan Rp800 ribu.”
- Penulis :
- Arian Mesa





