
Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menetapkan kawasan Rest Area Jalan Tol Km 88 dan Masjid At-Thohir di Kota Depok sebagai proyek percontohan penataan infrastruktur pariwisata yang memenuhi standar destinasi ramah Muslim bertaraf internasional.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata dengan pendekatan berbasis data, kolaborasi, dan kebijakan yang inklusif, sekaligus menyasar pasar wisatawan Muslim dari Malaysia, Singapura, hingga Timur Tengah.
Fokus Standarisasi dan Digitalisasi
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan menjelaskan penunjukan kedua lokasi tersebut dilakukan bersamaan dengan peluncuran Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) Award 2026 serta publikasi capaian Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) Jawa Barat di Masjid At-Thohir, Kota Depok.
Rest Area Km 88 akan difokuskan pada standarisasi sarana dan prasarana ibadah serta kurasi kuliner halal, sedangkan Masjid At-Thohir dikembangkan sebagai destinasi wisata religi unggulan melalui digitalisasi layanan.
“Kegiatan ini bukan sekadar ajang penghargaan, namun momentum untuk meningkatkan standarisasi melalui pendampingan dan workshop pelatihan intensif terkait hospitality,” ungkap Iendra.
SWJ-MFT Award 2026 juga membuka kompetisi dalam delapan kategori, meliputi kabupaten atau kota ramah Muslim, hotel, restoran, daya tarik wisata alam, daya tarik wisata warisan budaya, daya tarik wisata buatan, desa wisata, serta pusat perbelanjaan ramah Muslim.
Diharapkan Jadi Barometer Nasional
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan menilai program tersebut layak menjadi acuan bagi provinsi lain dalam mengembangkan destinasi wisata ramah Muslim.
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menegaskan konsep wisata ramah Muslim bukan untuk membatasi aktivitas pariwisata, melainkan menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan.
“Pariwisata ramah Muslim bukan untuk membatasi wisata tetapi memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan. Selain itu, menguatkan destinasi unggulan, indah dan aman, nyaman, inklusif dan berkelas dunia di Jabar,” ujarnya.
- Penulis :
- Gerry Eka





