
Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai proyek hilirisasi di sektor pertanian memiliki potensi penyerapan tenaga kerja paling besar dibandingkan sektor lainnya karena karakteristiknya yang padat karya, meski nilai tambah produk hilirisasi pertambangan dinilai lebih tinggi.
Hilirisasi Pertanian Berpotensi Ciptakan Lebih Banyak Lapangan Kerja
Mohammad Faisal mengatakan hilirisasi di sektor pertanian mampu menciptakan lapangan kerja lebih banyak dibandingkan sektor pertambangan.
"Kalau hilirisasi paling banyak menciptakan lapangan pekerjaan itu adalah yang di sektor pertanian, karena dia paling padat karya. Jadi tingkat serapan tenaga kerjanya lebih besar menurut saya dibandingkan hilirisasi di pertambangan," ungkapnya.
Menurut Faisal, produk hilirisasi sektor pertambangan memang berpotensi menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan sektor pertanian.
"Walaupun dari sisi value, nilai tambahnya, bisa jadi yang di pertambangan produk olahannya itu lebih berlipat Nilai tambahnya dibandingkan dengan pertanian," ujarnya.
Ia menilai hilirisasi sektor pertanian perlu terus dioptimalkan agar mampu menghasilkan berbagai produk hilir yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.
Komoditas yang dinilai berpotensi dikembangkan melalui hilirisasi antara lain kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, hortikultura, serta berbagai produk pangan pokok berbahan baku dalam negeri.
"Ini dan juga mungkin hortikultura, ya, termasuk juga staple food yang lain, mungkin yang bahan bakunya atau produksi dari dalam negeri, itu yang akan bisa banyak menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.
Optimalisasi Hilirisasi Perlu Perhatikan Tiga Aspek
Faisal menegaskan optimalisasi proyek hilirisasi nasional harus memperhatikan tiga aspek utama, yakni memaksimalkan nilai tambah, memastikan keterlibatan masyarakat secara inklusif, serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Evaluasi pelaksanaan proyek juga dinilai penting agar tujuan hilirisasi dapat tercapai secara optimal.
"Nah jadi setidaknya tiga hal itu yang perlu diperhatikan kalau kita berbicara masalah optimalisasi (proyek hilirisasi nasional)," ungkapnya.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria menyatakan terdapat 26 proyek hilirisasi yang sedang digarap dengan total investasi mencapai Rp225 triliun.
Proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis seperti smelter aluminium, baja nirkarat, smelter tembaga, bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, hingga peternakan ayam terintegrasi.
Seluruh proyek diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja melalui dua fase pembangunan, dengan fase pertama bernilai investasi Rp109 triliun dan fase kedua mencapai Rp116 triliun.
- Penulis :
- Leon Weldrick
- Editor :
- Arian Mesa





