HOME  ⁄  Nasional

Menko PMK Dorong Tujuh Langkah Ciptakan Ruang Aman dan Nyaman di Lingkungan Pesantren

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Menko PMK Dorong Tujuh Langkah Ciptakan Ruang Aman dan Nyaman di Lingkungan Pesantren
Foto: (Sumber :Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta pada jumat (17/7/2026). (ANTARA/HO-Biro Komunikasi dan Persidangan Kemenko PMK).)

Pantau - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) melalui tujuh langkah untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan, termasuk di pesantren.

Pratikno menyampaikan kampanye tersebut saat menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta.

Ia mengungkapkan, “Melalui gerakan ini kita berusaha keras membangun ruang aman dan nyaman untuk anak.”

Pratikno menegaskan kekerasan terhadap anak dapat terjadi di berbagai lingkungan sehingga pencegahan harus dilakukan agar anak dapat berkembang secara optimal.

Ia mengungkapkan, “Dampak kekerasan pada anak itu luar biasa. Kekerasan akan menurunkan konsentrasi, anak menjadi tidak fokus, berdampak secara psikologis dan kognitif.”

Tujuh langkah yang diusulkan meliputi evaluasi sistem pelindungan dan pelatihan pengasuh, pembentukan tim pelindungan anak, penyusunan kebijakan pelindungan anak, pembangunan sistem pengaduan ramah anak, pelatihan berkelanjutan, penguatan budaya saling menjaga, serta pelibatan wali murid dan masyarakat.

Menko PMK juga mendorong pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk menghadapi tantangan hilangnya sejumlah jenis pekerjaan dan munculnya peluang kerja baru.

Ia mengungkapkan, “Transformasi harus dilakukan secara besar-besaran dengan tetap memperkokoh identitas kultural dan spiritual pesantren. Transformasi harus dilakukan agar pesantren bisa lebih kompetitif di zaman yang baru ini. Kalau tidak, bukan hanya secara ekonomi warga yang tertinggal, tetapi juga identitas kultural dan spiritual bisa tergerus oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan.”

Pratikno memberikan apresiasi kepada RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU atas inisiatif pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren.

Ia mengungkapkan, “Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan RMI PBNU. Jika pesantren bisa aman dan nyaman, serta membangun kompetensi santri di zaman disrupsi teknologi ini, implikasinya bagi institusi akan bagus. Kepercayaan akan meningkat, loyalitas alumni meningkat, dan bisa menjadi contoh baik bagi institusi-institusi pendidikan yang lain.”

Penulis :
Ahmad Yusuf