HOME  ⁄  Nasional

Program JIAT BBWS Nusa Tenggara II Bantu Petani Kupang Tingkatkan Produksi Pertanian

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Program JIAT BBWS Nusa Tenggara II Bantu Petani Kupang Tingkatkan Produksi Pertanian
Foto: Foto: Area pertanian hasil dari program Sumur Bor JIAT di Kota Kupang, NTT. (Sumber: ANTARA/Kornelis Kaha.)

Pantau - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) membantu petani di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, meningkatkan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Program Sumur Bor JIAT mulai dilaksanakan di Kota Kupang pada 2025 berdasarkan Instruksi Presiden dan ditujukan bagi lahan tadah hujan atau wilayah kering yang tidak terjangkau irigasi sungai maupun bendungan.

Kepala Satuan Kerja Air Tanah dan Air Baku BBWS NT II Djoni Doga mengatakan program tersebut menjadi satu-satunya lokasi JIAT yang beroperasi di Kota Kupang sesuai Instruksi Presiden tahun 2025.

"Jadi lokasi ini adalah satu-satunya di Kota Kupang yang beroperasi sesuai dengan Inpres tahun 2025," kata Djoni.

JIAT Buka Peluang Petani Tingkatkan Frekuensi Panen

Melalui program JIAT, petani dapat mengairi lahan pertanian sepanjang tahun sehingga pola tanam dapat ditingkatkan.

Petani yang sebelumnya hanya mampu melakukan satu atau dua kali panen dalam setahun kini berpeluang meningkatkan produksi hingga tiga kali panen dalam setahun.

Dalam pelaksanaannya, BBWS NT II bekerja sama dengan petani lokal di Kelurahan Manulai II, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Program tersebut tidak hanya digunakan untuk penanaman padi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman palawija serta hortikultura.

Salah satu kelompok tani yang memanfaatkan program tersebut adalah Kelompok Tani Long Stone.

Djoni menjelaskan bahwa area JIAT di Kelurahan Manulai II merupakan lahan yang sejak awal diusulkan oleh Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas PUPR Kota Kupang.

"Jadi lahan ini adalah lahan usulan, dari Pemkot, kami sejak awal tidak tahu, tetapi mereka kemudian menemukan lahan ini dan mengusulkan kepada kami sehingga program ini berjalan," ujar Djoni.

Program JIAT tersebut telah dilengkapi rumah pompa sumur bor yang didukung panel solar cell dan jaringan listrik PLN.

Petani Rasakan Dampak Peningkatan Hasil Panen

Ketua Kelompok Tani Long Stone Mikael mengatakan program JIAT memberikan dampak positif terhadap hasil pertanian sejak mulai berjalan pada 2025.

Menurutnya, produksi padi meningkat karena petani memperoleh pasokan air yang lebih baik sehingga dalam setahun dapat melakukan dua kali panen.

Sebelumnya, petani hanya mampu melakukan satu kali panen dalam setahun.

"Kini sudah tanam lagi, karena air mengalir terus. Selain itu melalui JIAT ini juga kami bisa manfaatkan untuk membuka bedeng tanaman seperti sayur, tomat, cabai rawit," kata Mikael.

Mikael menyebut keberadaan JIAT membantu petani mengembangkan tanaman hortikultura seperti sayur sawi yang dapat dipanen hingga lima kali bahkan belasan kali.

Ia juga mencontohkan hasil panen cabai yang dapat dipanen setiap tiga bulan dengan produksi sekitar 60 kilogram dalam satu minggu.

Dalam periode tiga bulan, petani dapat melakukan hingga 12 kali panen cabai yang kemudian dijual ke pasar.

Mikael berharap program sumur bor JIAT dapat terus berjalan agar memperluas area tanam petani.

Saat ini lahan yang tersedia mencapai sekitar 7 hektare, namun lahan yang baru dimanfaatkan masih kurang dari 2 hektare.

Penulis :
Leon Weldrick