
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat penyediaan teknologi air berbasis riset sebagai tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadapi ancaman krisis air akibat perubahan iklim, sebagaimana disampaikan pada Jumat (24/7/2026) pukul 16.04 WIB.
Kepala BRIN Arif Satria memperkenalkan berbagai teknologi hasil riset yang ditujukan untuk menjamin ketersediaan air bagi kebutuhan masyarakat, sektor pertanian, industri, hingga penanggulangan bencana.
Pendekatan yang diterapkan BRIN mencakup seluruh siklus hidrologi, mulai dari atmosfer, daratan, kawasan pesisir, hingga laut.
Arif Satria mengungkapkan, "Keberlanjutan peradaban kita bergantung pada kemandirian dalam mengelola air. Teknologi yang dihadirkan BRIN memadukan keunggulan sains dasar dengan aplikasi praktis untuk memastikan setiap tetes air baik dari awan, celah bebatuan, maupun samudera dapat dioptimalkan bagi kesejahteraan masyarakat. Inilah wujud nyata Indonesia tangguh air menuju Indonesia Emas 2045."
Enam Teknologi Air Berbasis Riset
Teknologi pertama yang diperkenalkan adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang bekerja dengan mengintervensi proses mikrofisika awan melalui berbagai metode penyemaian.
Penyemaian dalam TMC dapat dilakukan menggunakan pesawat terbang, armada drone, roket, maupun Ground Base Generator.
Teknologi kedua berupa eksplorasi speleologi karst dan air tawar lepas pantai (Offshore Fresh Groundwater/OFG) yang mampu mengekstraksi air hujan yang telah meresap ke dalam tanah karst.
Air yang bergerak melalui rongga-rongga batuan secara alami tersaring sehingga menghasilkan aliran air yang jernih dan stabil.
Teknologi ketiga adalah pemanfaatan teknologi nuklir untuk membaca sidik jari air dan resonansi magnetik bumi.
Teknologi tersebut menggunakan isotop alami seperti oksigen-18 (18O) dan hidrogen-2 (2H) untuk merekam informasi mengenai elevasi, temperatur, serta curah hujan.
BRIN juga memanfaatkan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) permukaan sebagai bagian dari pengembangan teknologi tersebut.
Arif Satria mengatakan, "BRIN juga memanfaatkan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) permukaan. Alat senilai Rp15,8 miliar ini menggunakan medan magnet bumi untuk mendeteksi sinyal inti hidrogen dalam air tanah secara langsung."
Solusi untuk Wilayah Pesisir dan Fasilitas Umum
Teknologi keempat adalah desalinasi air laut yang dikembangkan untuk kawasan pulau kecil dan wilayah pesisir melalui sistem berkapasitas komunal hingga industri dengan kemampuan produksi sekitar 5.000 hingga lebih dari 20.000 liter per hari.
Teknologi kelima adalah Air Siap Minum (Arsinum) yang mampu mengolah air marjinal, termasuk air gambut pesisir, air keruh, serta air tanah yang mengandung zat besi, mangan, dan memiliki tingkat kesadahan tinggi.
Teknologi keenam berupa sistem Panen Air Hujan dan Instalasi Pengolah Air Wudlu yang memanfaatkan teknologi pemanenan air hujan serta dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik untuk fasilitas umum.
Sistem tersebut telah diuji coba di Masjid Agung Wonosari, Gunung Kidul.
Arif Satria mengungkapkan, "Telah diuji coba di Masjid Agung Wonosari, Gunung Kidul, sistem ini menghasilkan air olahan stabil yang dapat dimanfaatkan kembali, menjadikannya solusi hemat energi dan ramah lingkungan yang minim residu lumpur."
BRIN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis air yang diperkirakan semakin meningkat akibat perubahan iklim.
- Penulis :
- Leon Weldrick





