
Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai inovasi teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan efisiensi produksi, rendemen, serta pengembangan produk hasil hutan yang memiliki nilai tambah.
Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran BRIN Ratih Damayanti mengatakan pemanfaatan teknologi diperlukan agar industri hasil hutan mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia mengatakan, “Kayu adalah material yang keunggulannya luar biasa dan masih sangat relevan untuk masa depan.”
Sekretaris Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Tjipta Purwita menyebut tantangan hilirisasi industri kayu saat ini meliputi kepastian bahan baku, efisiensi produksi, kepastian pasar, serta daya saing.
Ia juga menyoroti perizinan yang belum efisien, dampak geopolitik, dinamika kebutuhan pasar, dan persaingan dengan material substitusi produk kayu.
Tjipta mengatakan, “Pelaku usaha membutuhkan dukungan fiskal untuk impor permesinan, pembiayaan modernisasi infrastruktur pengolahan kayu, perbaikan regulasi perizinan.”
Menurutnya, pelaku usaha juga membutuhkan penguatan pasar domestik melalui pengadaan pemerintah di platform digital pengadaan barang dan jasa (Inaproc).
Ia menambahkan penguatan implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu/Kelestarian (SVLK), market intelligence, diversifikasi pasar, fleksibilitas penggunaan bahan baku, kemitraan hulu-hilir, serta pembangunan hutan tanaman industri juga perlu menjadi perhatian.
Direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan Kementerian Kehutanan Ade Mukadi menegaskan penguatan industri hasil hutan memerlukan kolaborasi serta kesamaan visi dan misi dalam hilirisasi.
Ia mengatakan, “Ini adalah sebagai modalitas dalam penguatan industri hasil hutan, sehingga sunset industri pengolahan hasil hutan bisa terbantahkan.”
Ade menambahkan Kementerian Kehutanan mengajak seluruh pemangku kepentingan memanfaatkan momentum konsultasi publik untuk membangun ekosistem industri hasil hutan Indonesia yang kuat secara ekonomi sekaligus berkelanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan





