HOME  ⁄  Nasional

BRIN Mendorong Pemanfaatan Spirulina sebagai Solusi Pakan Budidaya Ikan Berkelanjutan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BRIN Mendorong Pemanfaatan Spirulina sebagai Solusi Pakan Budidaya Ikan Berkelanjutan
Foto: (Sumber :Ilustrasi: Pekerja menunjukkan produk olahan alga jenis Spirulina yang telah dikeringkan di fasilitas budidaya Albitec, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/7/2026). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr.

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan mikroalga Spirulina platensis sebagai solusi inovatif untuk mendukung sistem budidaya ikan dan industri perikanan yang berkelanjutan di Indonesia.

Spirulina Dinilai Kaya Nutrisi untuk Pakan Ikan

Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut BRIN Siti Faridah mengatakan spirulina memiliki potensi besar sebagai bahan baku pakan fungsional pada fase pembenihan maupun pembesaran komoditas perikanan.

Ia mengungkapkan, "Selain bisa dijadikan sebagai komoditas industri tersendiri, hasil dari spirulina sangat mendukung kegiatan industri perikanan. Spirulina bisa menjadi enrichment (pengayaan nutrisi) pada pakan untuk kegiatan pembenihan dan pembesaran."

Menurut Siti, spirulina dipilih karena memiliki laju pertumbuhan yang cepat, mudah dipanen, serta mengandung nutrisi tinggi yang mudah dicerna.

Ia menjelaskan kandungan protein spirulina mencapai sekitar 65 persen atau lebih tinggi dibandingkan berbagai sumber protein konvensional seperti telur, daging sapi, ayam, susu, dan keju.

Dalam rantai produksi akuakultur, biomasa hasil pengolahan spirulina juga dapat dimanfaatkan sepenuhnya sebagai bahan baku pakan ikan maupun ternak sehingga membantu menjawab tantangan krisis pangan dan tekanan terhadap ekosistem perairan.

Budidaya Spirulina Dinilai Prospektif

Siti menjelaskan budidaya spirulina dilakukan melalui tiga tahapan, yakni kultur skala laboratorium, kultur intermediate, dan kultur skala massal.

Ia mengatakan, "Fotobioreaktor itu lebih baik dibanding konvensional karena kita memanfaatkan lahan yang sedikit namun bisa memproduksi lebih maksimal, serta meminimalisir kontaminan, meskipun ini membutuhkan biaya dan penguasaan teknologi yang lebih."

Menurutnya, keberhasilan budidaya spirulina dipengaruhi oleh suhu, salinitas, intensitas cahaya, dan tingkat keasaman air.

Siti menyebut nilai pasar global spirulina diproyeksikan meningkat dari 393,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 897,61 juta dolar AS pada 2027 berdasarkan data Unleaded Market Research.

Ia menuturkan, "Prospek usaha budidaya spirulina sangat layak untuk terus dikembangkan agar menjadi pendorong bagi terwujudnya industri perikanan yang maju dan modern di Indonesia."

Penulis :
Ahmad Yusuf