HOME  ⁄  Nasional

CORE Sebut Masih Ada 1 Juta Ton Tetes Tebu Berpotensi Dikembangkan Menjadi Bioetanol

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

CORE Sebut Masih Ada 1 Juta Ton Tetes Tebu Berpotensi Dikembangkan Menjadi Bioetanol
Foto: Ilustrasi - Warga menuangkan cairan tetes tebu ke dalam galon saat edukasi pembuatan ekoenzim di Perumahan Sahid Mansion, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (27/6/2026).

Pantau - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan masih terdapat sekitar 1 juta ton tetes tebu atau molase yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol guna mendukung program pencampuran etanol dalam bahan bakar minyak.

Pasokan dan Produksi Masih Menjadi Tantangan

Ekonom CORE Indonesia Eliza Mardian mengatakan total produksi molase nasional mencapai sekitar 1,9 juta ton per tahun, namun baru sekitar 900 ribu ton yang telah terserap.

Ia mengungkapkan, “Total produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru keserap itu 900 ribu ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai.”

Menurut Eliza, sebagian besar pasokan tetes tebu berasal dari luar Pulau Jawa, sedangkan fasilitas pengolahannya berada di Pulau Jawa sehingga memunculkan tantangan biaya logistik.

Ia juga menyoroti keterbatasan produksi fuel grade ethanol (FGE) dengan kadar di atas 99 persen yang layak dicampurkan ke bahan bakar minyak.

Ia mengatakan, “Realitas produksi domestik itu cuma sekitar 26 ribu kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo.”

Eliza menjelaskan kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional mencapai 303 ribu kiloliter, namun utilitas aktualnya sekitar 172 ribu kiloliter.

Ia mengungkapkan, “Sebagian besar masih dialokasikan untuk keperluan industri non-BBM seperti kosmetik, farmasi, pangan.”

Investasi Dibutuhkan untuk Wujudkan Program Bioetanol

Eliza menilai penerapan kebijakan bioetanol E5 hingga E20 secara nasional membutuhkan investasi besar pada rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun mendatang.

Ia mengatakan, “Keberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina.”

Menurutnya, penguatan produksi domestik diperlukan agar kebutuhan fuel grade ethanol dapat dipenuhi secara bertahap tanpa bergantung pada impor.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen atau E10 mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum berlanjut ke E20 secara bertahap pada 2028 hingga 2029 untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin.

Penulis :
Gerry Eka