
Pantau - Kementerian Kesehatan menyatakan kesiapan mengadopsi sistem layanan terintegrasi yang diterapkan di Puskesmas Cisadea, Kota Malang, Jawa Timur, untuk dijadikan bagian dari program nasional karena dinilai mampu mempercepat pelacakan penyebaran penyakit di masyarakat.
Sistem Terintegrasi Dinilai Layak Jadi Contoh Nasional
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menyampaikan hal tersebut usai meninjau pelayanan di Puskesmas Cisadea, Jalan Indragiri, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Kamis (30/7).
Menurut Benjamin, sistem layanan yang diterapkan memungkinkan petugas mengetahui asal wilayah pasien serta memetakan daerah dengan tingkat penularan penyakit yang tinggi.
“Tadi saya kaget bahwa di Kota Malang (sistem layanan puskesmas) sudah terintegrasi, jadi orang yang akan datang kasusnya bisa diketahui dari wilayah mana, daerah penularan tinggi apa tidak. Ini yang ingin kami adopsi untuk program nasional,” ungkap Benjamin.
Ia menilai banyak puskesmas di Indonesia telah mengalami peningkatan kualitas pelayanan, namun inovasi yang diterapkan di Kota Malang menjadi salah satu yang terbaik yang pernah ditemuinya.
“Beberapa wilayah di Indonesia bagus, tapi kalau di Kota Malang ini luar biasa bagus,” ujarnya.
Layanan Akan Terus Dikembangkan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif mengatakan sistem layanan terintegrasi di Puskesmas Cisadea merupakan bagian dari peningkatan kualitas pelayanan yang disusun sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
Ia menambahkan fungsi bangunan puskesmas juga telah disesuaikan dengan standar dari Kementerian Pekerjaan Umum.
“Kalau puskesmas lain hampir sama programnya, cuma beberapa mungkin ada yang masih kurang, misalnya belum semua puskesmas ada Tes Cepat Molekuler (TCM),” katanya.
Husnul menjelaskan sistem tersebut membuat Puskesmas Cisadea menjadi rujukan bagi fasilitas kesehatan terdekat.
Ia menyebut pengembangan layanan masih akan dilakukan, terutama untuk memperkuat deteksi dan penanganan tuberkulosis (TBC) melalui penambahan perangkat portable x-ray.
“Nanti sama Pak Wamenkes akan dijamin satu, sehingga titik yang sudah ditentukan untuk tahun 2026 sebanyak 153 titik untuk pemakaian portable x-ray,” ungkapnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan



