
Pantau - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, Jawa Tengah, setelah terjadi insiden keamanan pangan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan ratusan siswa dan guru mengalami pusing, mual, muntah, serta diare.
Ratusan Siswa dan Guru Terdampak
Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar langsung menjenguk para korban di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum, Kota Semarang, pada Sabtu (1/8/2026).
"Jadi, ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Ada sekitar 700-an sekian yang dirawat, sebagian itu ada yang mual, ada yang terus-menerus buang air, dan seterusnya. Dari sekitar 700-an yang dirawat itu sebagian di rumah sakit, dan ada yang di puskesmas. Alhamdulillah, tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik," ungkapnya.
Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang yang terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang diduga mengalami insiden keamanan pangan setelah mengonsumsi MBG pada Jumat (31/7/2026).
Berdasarkan investigasi awal, BGN menduga insiden dipicu oleh beberapa bahan makanan yang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta proses memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.
"Sejauh ini, investigasi yang kami terima ada beberapa bahan, yakni daun singkong, bumbu rendang, dan lain-lain. Kita lagi minta dari dinas kesehatan untuk dicek laboratoriumnya. Kita butuh waktu paling tidak tujuh hari, lima hari kerja begitu, untuk sampai dengan hasilnya, kemudian, kita bisa lihat hasil lab-nya. Namun, sejauh ini investigasi kita adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal," ujarnya.
BGN Siapkan Sistem Digital Pengawasan
BGN mempercepat penerapan sistem digital untuk mendokumentasikan dan memantau seluruh tahapan produksi makanan, mulai dari waktu memasak, menu, hingga penggunaan bahan dan bumbu.
"Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang sedang kita paksa semua dapur, ada koordinator kecamatan dan lain-lain, sedang kita paksa kerja pakai sistem. Jadi, kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita kunci, dan kita lagi siapkan ini (sistemnya), kita kebut semua. Semoga dalam waktu seminggu atau dua minggu ini sudah beres, kemudian, kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali dinas kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan harus kemudian tersistem dan terpantau semua," ungkapnya.
BGN menyatakan langkah penghentian sementara operasional SPPG Karangturi dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan pencegahan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
- Penulis :
- Gerry Eka



