HOME  ⁄  Nasional

Bamsoet Soroti Pentingnya Menjaga Independensi BI dan Pemulihan Sektor Riil

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Bamsoet Soroti Pentingnya Menjaga Independensi BI dan Pemulihan Sektor Riil
Foto: (Sumber :Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI/Ketua MPR RI ke-15/Ketua DPR RI ke-20/Ketua Komisi III DPR RI ke-7/Dosen Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya, dan Universitas Pertahanan (Unhan).)

Pantau - Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai independensi Bank Indonesia (BI) harus tetap dijaga di tengah tekanan terhadap sektor riil dan dinamika ekonomi nasional, sembari mendorong pemerintah memfokuskan kebijakan fiskal pada pemulihan dunia usaha dan UMKM.

Bamsoet Minta Independensi BI Tetap Dijaga

Bamsoet mengatakan Bank Indonesia perlu tetap fokus menjalankan tugas menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mengelola kebijakan moneter tanpa gangguan yang dapat memengaruhi independensinya.

“Mengganggu independensi Bank Indonesia (BI) yang terukur dan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara sama artinya mengeskalasi persoalan ekonomi negara,” ungkap Bamsoet dalam catatan politiknya, Senin (3/8).

Ia menilai sektor riil saat ini menghadapi tekanan akibat kebangkrutan sejumlah perusahaan manufaktur dan UMKM yang berdampak pada meningkatnya pemutusan hubungan kerja.

Menurutnya, Kementerian Keuangan dan pihak terkait perlu memfokuskan kebijakan fiskal untuk membenahi sektor riil, sementara BI tetap menjalankan fungsi menjaga stabilitas moneter.

Dorong Pemulihan Dunia Usaha dan UMKM

Bamsoet menyoroti sejumlah tantangan ekonomi, seperti nilai tukar rupiah, inflasi, defisit APBN, serta lemahnya daya beli masyarakat yang memengaruhi kemampuan dunia usaha menyerap kredit perbankan.

Ia juga menyinggung dinamika penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah sebagai bagian dari penguatan likuiditas perbankan, namun menilai kebijakan tersebut perlu diimbangi dengan upaya mempercepat pemulihan sektor riil.

“Niat pemerintah memperkuat likuiditas perbankan demi pertumbuhan kredit ke sektor bisnis patut diapresiasi. Sayangnya, kemampuan sektor bisnis atau sektor riil menyerap tawaran kredit dari perbankan saat itu sedang lemah,” ujarnya.

Bamsoet menambahkan sektor riil juga menghadapi tantangan berupa tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga energi, melemahnya permintaan pasar, tingginya suku bunga pinjaman, serta maraknya penyelundupan produk manufaktur yang dinilai merugikan industri dalam negeri dan UMKM.

Ia menegaskan pemulihan sektor riil harus dilakukan secara berkelanjutan melalui koordinasi lintas sektor agar penawaran kredit perbankan dapat terserap dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf