HOME  ⁄  Nasional

Bappenas Memastikan Kesiapan Lintas Sektor Menghadapi Ancaman El Nino Kuat pada Semester II 2026

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Bappenas Memastikan Kesiapan Lintas Sektor Menghadapi Ancaman El Nino Kuat pada Semester II 2026
Foto: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy dan Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh pasca agenda Dialog Nasional “Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat” di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa 5/8/2026 (sumber: ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas)

Pantau - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy memastikan setiap kementerian/lembaga yang menangani persoalan El Nino dapat bekerja secara optimum guna menghadapi potensi El Nino kategori kuat pada semester II 2026 berdasarkan hasil pemantauan dan analisis prediktif Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Rachmat Pambudy menyampaikan hal tersebut usai mengikuti Dialog Nasional "Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat" di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa.

"Kami dari Bappenas ingin memastikan bahwa setiap institusi, kementerian, lembaga, khususnya yang berkaitan dengan persoalan El Nino ini bisa bekerja dengan optimum," ungkap Rachmat Pambudy.

Bappenas menegaskan BMKG menjadi ujung tombak dalam penanganan El Nino sekaligus memastikan Kepala BMKG beserta seluruh jajaran siap mengantisipasi dan mengelola risiko yang ditimbulkan oleh fenomena tersebut.

Berdasarkan analisis BMKG, El Nino kuat berpotensi menyebabkan curah hujan sangat rendah, yakni di bawah 20 milimeter per bulan di sebagian wilayah Indonesia.

Tanpa langkah antisipasi dini, risiko kerugian ekonomi nasional akibat perubahan iklim pada sektor-sektor prioritas diperkirakan dapat melampaui Rp2 kuadriliun dan berpotensi semakin besar apabila diperkuat oleh fenomena El Nino kuat.

Empat Klaster Strategi Menghadapi El Nino

Bappenas bersama kementerian dan lembaga menyusun empat klaster pembangunan utama sebagai strategi menghadapi dampak El Nino.

Klaster pertama mencakup hutan, lahan, dan pertanian yang menghadapi risiko meningkatnya kebakaran hutan dan lahan akibat penurunan curah hujan, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Kekeringan juga diperkirakan mengancam produktivitas padi serta komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan kopi.

Pemerintah menyiapkan penguatan operasi pemadaman kebakaran, modifikasi cuaca, aktivasi sumur bor, penyaluran benih tahan kekeringan, perbaikan sistem irigasi, dan penguatan perlindungan petani melalui asuransi pertanian.

Musim kering juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan budidaya tanaman palawija, tebu, dan sejumlah komoditas hortikultura.

Klaster kedua berfokus pada energi dan sumber daya air yang diperkirakan terdampak oleh penurunan cadangan air, berkurangnya debit sungai, terganggunya pasokan air baku, serta operasional pembangkit listrik tenaga air.

Strategi yang disiapkan meliputi pengerukan dan pemeliharaan infrastruktur tabungan air, konservasi daerah aliran sungai, serta operasi modifikasi cuaca.

Kesehatan dan Pangan Akuatik Jadi Perhatian

Klaster ketiga mencakup sektor kesehatan yang menghadapi potensi peningkatan penyebaran penyakit seperti dengue dan malaria akibat suhu tinggi serta perubahan kelembaban.

Atmosfer yang lebih kering juga diperkirakan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Pemerintah menyiapkan penguatan surveilans penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim, peningkatan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, jaminan pasokan air bersih di fasilitas pelayanan kesehatan, serta komunikasi risiko kepada masyarakat.

Klaster keempat berfokus pada pangan akuatik yang berpotensi memperoleh manfaat dari fenomena upwelling yang membawa nutrisi ke permukaan perairan sehingga meningkatkan hasil tangkapan ikan pelagis seperti cakalang, tuna, dan tongkol serta mendukung produksi garam nasional.

Di sisi lain, budidaya ikan air tawar dan rumput laut diperkirakan terdampak akibat perubahan suhu dan kualitas perairan.

Strategi mitigasi yang disiapkan meliputi penyusunan kalender produksi, pemanfaatan data oseanografi sebagai dasar pengambilan keputusan, serta pendampingan teknologi budidaya.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A A Teguh menegaskan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi siklus perubahan iklim.

"Kami melihat ini sebagai satu siklus yang perlu direspons dengan kesiapsiagaan yang lebih baik dan konsolidasi yang lebih baik, melihat dari amanat dari RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sendiri dalam Asta Cita 8 khusus bagaimana kita bisa meningkatkan ketahanan Indonesia dalam kebencanaan maupun dalam perubahan iklim," ungkap Leonardo A A Teguh.

Penulis :
Leon Weldrick