
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah akan tetap mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga sebagai bagian dari upaya memperkuat industri hilirisasi di dalam negeri dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Bahlil mengatakan, “Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga.”
Larangan ekspor tersebut diterapkan agar bauksit dan tembaga diolah terlebih dahulu di dalam negeri sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Menurut Bahlil, kebijakan hilirisasi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Bahlil menegaskan, “Memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri di dalam negeri.”
Hilirisasi Dinilai Meningkatkan Nilai Tambah
Bahlil mendorong percepatan program hilirisasi agar Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri dalam mengelola sumber daya alam.
Dalam bukunya yang berjudul Tuan di Negeri Sendiri, Bahlil menjelaskan bahwa aktivitas hilirisasi selama ini lebih banyak berlangsung di daerah.
Menurut Bahlil, manfaat hilirisasi selama ini lebih banyak dirasakan oleh pemerintah pusat dan investor.
Buku tersebut juga membahas pentingnya kelembagaan dalam mendukung keberhasilan hilirisasi dengan mencontohkan model yang diterapkan Korea Selatan, Jepang, dan China.
Bahlil menyampaikan bahwa keuntungan hilirisasi masih lebih banyak dinikmati pihak luar karena sebagian besar investor dalam proyek hilirisasi berasal dari luar negeri.
Ia mengungkapkan, “Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara.”
Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai Rp40,1 triliun.
Nilai tersebut meningkat 193 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun.
Peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.
Investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar dibandingkan komoditas lainnya pada kuartal II 2026.
Investasi hilirisasi nikel tercatat sebesar Rp29,4 triliun.
Investasi hilirisasi tembaga mencapai Rp16,7 triliun.
Investasi hilirisasi besi baja mencapai Rp13,2 triliun.
Investasi hilirisasi pasir silika mencapai Rp4 triliun.
Investasi komoditas lainnya yang meliputi timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang mencapai Rp4,7 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun.
Nilai tersebut meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi hilirisasi menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional.
Total realisasi investasi nasional pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun.
- Penulis :
- Leon Weldrick



