HOME  ⁄  Nasional

Kemendikdasmen Memulai MPLS Ramah SNT di 17 Lokasi, Murid Dikenalkan Koding hingga AI

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kemendikdasmen Memulai MPLS Ramah SNT di 17 Lokasi, Murid Dikenalkan Koding hingga AI
Foto: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di SNT 7 Parung Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Senin (10/8/2026) resmi memulai rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah bagi para murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di 17 lokasi sejak hari ini (sumber: ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban)

Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memulai rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah bagi murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di 17 lokasi pada Senin, 10 Agustus 2026.

Pembukaan MPLS Sekolah Nasional Terintegrasi Angkatan Pertama salah satunya berlangsung di SNT 7 Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan MPLS mencakup tiga materi utama, yakni pengenalan lingkungan sekolah, pengenalan kegiatan ekstrakurikuler, serta penguatan karakter dan budaya sekolah.

Murid Dikenalkan Lingkungan Sekolah dan Beragam Ekstrakurikuler

Gogot mengatakan pengenalan lingkungan sekolah mencakup mata pelajaran yang akan dipelajari murid pada setiap jenjang hingga berbagai program yang tersedia.

“Yang pertama adalah pengenalan lingkungan sekolah. Jadi mata pelajaran apa yang akan dipelajari di setiap jenjang, termasuk pengenalan dan program-program,” ungkap Gogot.

Dalam rangkaian MPLS, murid juga akan diperkenalkan dengan bahan ajar serta Learning Management System (LMS) yang nantinya digunakan dalam proses pembelajaran.

Selain aspek akademik, MPLS Ramah dimanfaatkan untuk membantu murid mengenali sekaligus mengembangkan bakat dan potensi melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler di SNT.

Kemendikdasmen menargetkan sedikitnya 15 jenis kegiatan ekstrakurikuler tersedia di SNT, meski pada tahap awal baru enam kegiatan yang akan dibuka.

Dua kegiatan ekstrakurikuler yang diwajibkan adalah Pramuka dan pencak silat.

Kegiatan lainnya mencakup koding, kecerdasan artifisial (AI) dan robotika, paduan suara, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), serta bahasa Inggris.

“Minimal ada 15 ekskul, tapi untuk yang pertama kita akan buka enam. Dua yang wajib, yaitu Pramuka dan pencak silat karena sudah diakui UNESCO,” kata Gogot.

Pengenalan teknologi juga menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler SNT melalui pembelajaran koding, AI, dan robotika.

MPLS SNT Perkuat Karakter dan Kenalkan Gerakan RANA

Selain pengenalan sekolah dan ekstrakurikuler, materi MPLS diarahkan untuk memperkuat karakter peserta didik sekaligus mengenalkan budaya yang akan dikembangkan di lingkungan sekolah.

“MPLS juga kami isi dengan pendidikan penguatan karakter, dan pengenalan budaya di lingkungan sekolah,” ujar Gogot.

Dalam materi penguatan karakter tersebut, murid akan diperkenalkan dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak atau Gerakan RANA.

Gerakan RANA menjadi bagian dari upaya pemerintah menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh murid.

Kemendikdasmen berharap rangkaian MPLS Ramah SNT dapat membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru.

MPLS juga diharapkan menjadi tahap awal bagi murid untuk mengembangkan kemampuan akademik, minat, bakat, serta karakter selama menempuh pendidikan di SNT.

Sekolah Nasional Terintegrasi Disiapkan di 17 Lokasi

Untuk tahun ajaran 2026/2027, Kemendikdasmen menyiapkan penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi di 17 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Lokasi tersebut meliputi Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, dan Kota Subulussalam.

SNT juga disiapkan di Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, serta Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Penulis :
Arian Mesa