
Pantau - Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen sepanjang 2026 meski momentum pertumbuhan diperkirakan semakin moderat pada semester II seiring normalisasi dukungan fiskal.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan pertumbuhan pada paruh kedua 2026 berpotensi menghadapi normalisasi belanja pemerintah, kondisi moneter dan likuiditas yang lebih ketat, biaya pinjaman lebih tinggi, serta tekanan sektor eksternal.
“Kami memperkirakan moderasi akan semakin terlihat pada semester II-2026,” kata Irman dalam kajian Indonesia Macro Glint Bank Danamon Indonesia yang diterima di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.
Belanja publik diperkirakan tetap menopang permintaan domestik pada semester II, sedangkan investasi menjadi salah satu faktor utama yang menahan perlambatan pertumbuhan pada kuartal II-2026.
Investasi Menahan Perlambatan Ekonomi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom Danamon sebesar 5,2 persen dan konsensus pasar sekitar 5,1 persen.
Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan.
Menurut Irman, perlambatan terutama mencerminkan normalisasi konsumsi rumah tangga dan pemerintah setelah dorongan Ramadan-Lebaran serta kuatnya belanja fiskal pada awal tahun mulai berkurang.
Kontribusi pembentukan modal tetap bruto atau investasi tetap terhadap pertumbuhan meningkat menjadi 2,06 poin persentase pada kuartal II-2026 dari 1,79 poin persentase pada kuartal sebelumnya.
Penguatan investasi tersebut berasal dari kombinasi investasi publik untuk program prioritas nasional dan pembangunan infrastruktur serta investasi swasta pada sektor manufaktur, industri hilirisasi, mesin, infrastruktur digital, kecerdasan buatan, dan pusat data.
Perkembangan investasi juga sejalan dengan kenaikan impor barang modal dan realisasi investasi sekitar Rp512 triliun pada kuartal II-2026.
Sementara itu, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan turun dari 2,95 poin persentase pada kuartal I menjadi 2,67 poin persentase pada kuartal II seiring berakhirnya dorongan Ramadan dan Lebaran terhadap mobilitas, transportasi, restoran, dan hotel.
Kontribusi konsumsi pemerintah juga turun menjadi 1,07 poin persentase dari sebelumnya 1,26 poin persentase, sementara pertumbuhannya melambat dari 21,8 persen menjadi 15,8 persen secara tahunan.
Belanja Pemerintah Tetap Jadi Penopang
Dari sisi lapangan usaha, kontribusi sektor konstruksi terhadap pertumbuhan meningkat menjadi 0,62 poin persentase dari 0,53 poin persentase, sedangkan perdagangan naik tipis menjadi 0,83 poin persentase dari 0,82 poin persentase.
Sebaliknya, kontribusi industri pengolahan sebagai sumber pertumbuhan terbesar turun menjadi 0,90 poin persentase dari 1,03 poin persentase, sementara sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,64 persen secara tahunan.
Dari sektor eksternal, ekspor neto masih memberikan kontribusi negatif sebesar 0,78 poin persentase, tetapi tekanannya mengecil dibandingkan minus 1,01 poin persentase pada kuartal sebelumnya.
Untuk semester II-2026, Irman mengutip Mid-Year Budget Outlook Kementerian Keuangan yang memproyeksikan total belanja pemerintah sepanjang 2026 mencapai Rp3.942 triliun.
Sekitar Rp1.656 triliun atau 42 persen dari anggaran tersebut telah direalisasikan pada semester I sehingga sekitar Rp2.286 triliun tersedia untuk semester II.
Ekonom Danamon memperkirakan belanja pemerintah pada paruh kedua 2026 tumbuh sekitar 12,6 persen secara tahunan.
Irman menilai belanja pemerintah masih menjadi penopang permintaan domestik, tetapi tambahan kontribusinya terhadap pertumbuhan diperkirakan lebih moderat dibandingkan semester pertama.
Investasi Diproyeksikan Semakin Dominan
Dalam jangka menengah, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan semakin bertumpu pada investasi melalui hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur strategis, dan proyek energi berskala besar.
Peningkatan investasi produktif dinilai dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus menopang pertumbuhan potensial Indonesia.
Kesinambungan pertumbuhan ekonomi selanjutnya akan semakin bergantung pada peningkatan produktivitas di tengah tantangan pembiayaan dan kondisi eksternal.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



