
Pantau - Kelurahan Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, mencatat sekitar 140 nasabah aktif rutin menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah RW 08 sebagai upaya mengurangi timbulan sampah dari sumber.
Lurah Cempaka Baru Rahmat Hidayat mengatakan bank sampah yang berdiri sejak 2018 tersebut semakin aktif setelah pelaksanaan Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.
"Rata-rata setiap kali penimbangan mencapai 80 hingga 150 kilogram, tergantung jenis sampahnya. Dalam satu bulan, total sampah anorganik yang terkumpul bisa mencapai 1 hingga 2 ton," kata Rahmat dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Sampah Dikumpulkan Dua Kali Sepekan
Rahmat mengatakan pengumpulan dan penimbangan sampah dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu dan Sabtu.
Sampah yang telah dipilah warga kemudian ditimbang dan dijual secara mandiri kepada pengepul atau pembeli yang menawarkan harga tertinggi.
Mekanisme tersebut diterapkan agar manfaat ekonomi pengelolaan sampah dapat langsung dirasakan warga sekaligus mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.
"Kami cari harga tertinggi di mana, baru setelah itu dijual ke sana. Jadi hari ini ditimbang, hari ini juga langsung dijual. Ini salah satu cara untuk memancing warga supaya semakin aktif karena mereka melihat manfaat ekonominya," ujarnya.
Kelurahan Cempaka Baru juga melibatkan kader Jumantik dan Dasawisma sebagai penggerak pemilahan sampah di tingkat RT.
Kelurahan berencana menggelar lomba pemilahan sampah antar-RT dari RT 01 hingga RT 15 dan memberikan penghargaan kepada wilayah yang dinilai berhasil mengelola sampah.
Pengelolaan Sampah RW 08 Capai 100 Persen
Rahmat mengatakan sebagian besar RW di Cempaka Baru telah menjalankan program bank sampah, sementara RW 04 dan RW 05 masih berada dalam tahap pengembangan.
Pengelolaan sampah anorganik di RW 08 telah mencapai 100 persen, sedangkan tingkat pengelolaan di RW lainnya berada pada kisaran 70 hingga 80 persen.
"Alhamdulillah di RW 8 sudah 100 persen sampah anorganiknya terkelola. Di RW lain juga cukup bagus, antara 70 sampai 80 persen, karena kami melibatkan kader-kader yang aktif di masing-masing wilayah," katanya.
- Penulis :
- Aditya Yohan



