
Pantau - Pemerintah Spanyol menilai kedatangan migran ilegal secara massal ke Ceuta di Afrika Utara bukan sekadar krisis migrasi, melainkan ancaman terhadap integritas wilayah negara tersebut.
Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas mengatakan penilaian itu juga disampaikan Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles terkait peristiwa pada 30 Juli 2026.
"Menteri [Pertahanan Margarita Robles] sependapat dengan kami bahwa apa yang terjadi di Ceuta pada 30 Juli lalu bukanlah krisis migrasi. Ia sepakat dengan kami bahwa apa yang terjadi pada 30 Juli sangat serius karena merupakan serangan terhadap integritas wilayah Spanyol," kata Vivas kepada wartawan.
Spanyol Siapkan Sumber Daya untuk Amankan Perbatasan
Vivas mengatakan Kementerian Pertahanan Spanyol berjanji mengerahkan sumber daya sebanyak yang diperlukan untuk menjamin keamanan perbatasan Spanyol dan Maroko.
Pernyataan tersebut muncul setelah Ceuta menghadapi gelombang kedatangan migran dari Maroko dalam jumlah besar sejak akhir Juli 2026.
Terkait rumor mengenai kemungkinan penerapan jam malam di Ceuta, Vivas mengaku tidak mempunyai informasi mengenai kebijakan tersebut.
"Tetapi, saya mengimbau warga Ceuta untuk berhati-hati. Ada 10.000 orang yang datang ke Ceuta dalam sehari, dan kami tidak tahu siapa mereka atau seperti apa mereka," katanya.
Puluhan Ribu Migran Dilaporkan Tiba dari Maroko
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska sebelumnya mengatakan sekitar 72.000 migran tiba di Spanyol dari Maroko.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70.000 migran dilaporkan telah kembali.
Ceuta merupakan wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko sehingga menjadi salah satu titik masuk migrasi menuju wilayah Spanyol.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



