HOME  ⁄  Nasional

Eddy Soeparno Dorong Jawa Tengah Jadi Lokomotif Industri Hijau dan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Eddy Soeparno Dorong Jawa Tengah Jadi Lokomotif Industri Hijau dan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
Foto: Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendengarkan masukan KADIN Jawa Tengah dan pelaku industri dalam audiensi Central Java Green Industry Initiative di Semarang, Jawa Tengah

Pantau - Wakil Ketua MPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mendorong Jawa Tengah menjadi salah satu lokomotif pengembangan industri hijau dengan memastikan transisi energi turut memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Dorongan tersebut disampaikan Eddy setelah menerima dan mendengarkan berbagai masukan dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Tengah serta pelaku industri dalam audiensi bertajuk Central Java Green Industry Initiative di Semarang, Rabu, 12 Agustus 2026.

Eddy menegaskan transisi energi tidak hanya berkaitan dengan perubahan sumber energi, tetapi menjadi bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memperkuat industrialisasi nasional.

Menurut Eddy, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) harus memberikan manfaat nyata bagi industri nasional sekaligus tenaga kerja Indonesia.

“Transisi energi jangan hanya membuat kita menjadi pasar teknologi hijau dari luar negeri. Kita harus memastikan industri dalam negeri ikut tumbuh, tenaga kerja Indonesia mendapatkan pekerjaan berkualitas, dan nilai tambahnya tinggal di Indonesia,” ungkap Eddy.

Jawa Tengah Dinilai Punya Modal Kuat untuk Industri Hijau

Eddy menilai Jawa Tengah memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu lokomotif pengembangan industri hijau di Indonesia.

Modal tersebut berasal dari momentum investasi yang terus meningkat, potensi EBT lebih dari 200 GW, keberadaan kawasan industri, serta konektivitas yang semakin berkembang.

Realisasi investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 tercatat mencapai sekitar Rp110 triliun yang tersebar dalam 105.078 proyek.

Investasi tersebut mampu menyerap sebanyak 418.138 tenaga kerja.

Jawa Tengah juga telah memiliki tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus, sementara 12 kawasan lainnya masih berada dalam tahap persiapan.

“Jadi kita punya modal yang lengkap. Ada investasinya, ada kawasan industrinya, ada tenaga kerjanya, ada konektivitasnya, dan ada potensi energi terbarukannya,” kata Eddy.

Eddy kemudian menyoroti tantangan untuk mengintegrasikan seluruh potensi tersebut menjadi sebuah ekosistem yang mampu bersaing.

“Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana semua potensi ini kita satukan menjadi ekosistem industri hijau yang benar-benar kompetitif?” lanjutnya.

Kepastian Regulasi dan Insentif Jadi Kunci Investasi Hijau

Meski memiliki potensi besar, Eddy menilai pengembangan industri hijau masih menghadapi sejumlah persoalan struktural dalam ekosistem investasi.

Menurutnya, investor membutuhkan kepastian hukum dan konsistensi kebijakan agar memiliki keyakinan untuk menanamkan modal dalam proyek-proyek hijau.

Proses perizinan juga perlu dibuat lebih cepat dan sederhana untuk mendukung masuknya investasi hijau dalam skala besar.

Pemerintah dinilai perlu menyediakan insentif yang mampu menutup green cost premium atau tambahan biaya yang muncul dalam penerapan teknologi dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

“Kalau kita ingin investasi hijau masuk dalam skala besar, maka Investor membutuhkan regulasi yang konsisten, perizinan yang cepat, akses energi yang andal dan kompetitif, serta insentif yang tepat sasaran,” kata Eddy.

Eddy menambahkan, berbagai masukan dari KADIN Jawa Tengah dan pelaku industri akan menjadi bahan penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan dunia usaha.

Transisi Energi Harus Perkuat Industri dan Tenaga Kerja

Eddy menegaskan pelaksanaan transisi energi harus berjalan beriringan dengan penguatan industri dalam negeri dan pengembangan rantai pasok domestik.

Penguatan rantai pasok diperlukan agar kebutuhan dalam transformasi menuju energi hijau dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar di Indonesia.

Peningkatan keterampilan tenaga kerja Indonesia juga dinilai penting agar pekerja dalam negeri memperoleh manfaat dari pertumbuhan sektor energi terbarukan dan industri hijau.

Pengembangan industri hijau, menurut Eddy, harus mampu menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia.

Ia menegaskan keberhasilan transisi energi setidaknya harus menghasilkan tiga manfaat secara bersamaan, yakni penurunan emisi, pertumbuhan industri, dan penciptaan pekerjaan berkualitas.

“Transisi energi harus menghasilkan tiga hal sekaligus: emisi turun, industri tumbuh, dan lapangan kerja berkualitas tercipta. Kalau itu kita capai, maka transisi energi bukan beban, tetapi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia,” ungkap Eddy.

Penulis :
Shila Glorya