
Pantau - Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal) menilai pengembangan fitur keamanan rupiah, termasuk Spark Live yang hingga kini belum berhasil dipalsukan, menjadi salah satu faktor yang menekan peredaran uang palsu di Indonesia.
Sekretaris Umum Botasupal Brigjen Pol Mulyono mengatakan teknologi pengamanan rupiah terus dikembangkan agar uang semakin sulit dipalsukan sekaligus lebih mudah dikenali keasliannya oleh masyarakat dan aparat penegak hukum.
Pernyataan itu disampaikan Mulyono dalam diskusi Rupiah untuk Indonesia Berdaulat pada Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Spark Live Jadi Fitur Andalan Pengamanan Rupiah
Mulyono menjelaskan salah satu teknologi pengamanan yang menjadi fitur andalan pada uang rupiah adalah Spark Live.
Menurut dia, Spark Live memberikan efek visual yang terlihat seolah-olah bergerak atau hidup ketika uang digoyang-goyangkan.
"Salah satu fitur andalan kita adalah Spark Live. Fitur tersebut seolah-olah hidup ketika uang digoyang-goyangkan. Sampai sekarang, fitur tersebut belum berhasil dipalsukan," ungkap Mulyono.
Ia menjelaskan uang rupiah memiliki sekitar 15–17 fitur keamanan yang perlu dipahami masyarakat maupun aparat penegak hukum untuk membedakan uang asli dengan uang palsu.
Botasupal menilai kuatnya sistem dan fitur keamanan rupiah turut membuat tingkat peredaran uang palsu di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan sejumlah negara lain.
Berdasarkan data Botasupal, rasio uang palsu di Indonesia pada periode 2024–2025 tercatat sekitar empat lembar untuk setiap satu juta lembar uang yang beredar.
Sepanjang 2026 hingga Agustus, rasio tersebut turun menjadi sekitar dua lembar uang palsu untuk setiap satu juta lembar uang yang beredar.
Sebagai perbandingan, Mulyono menyebut rasio peredaran uang palsu di luar negeri berada pada kisaran 9–14 lembar untuk setiap satu juta lembar uang yang beredar dan pada tingkat lebih tinggi dapat mencapai 14–20 lembar.
Fitur Keamanan Terus Dievaluasi Mengikuti Modus Pemalsuan
Botasupal menilai pemahaman terhadap fitur keamanan rupiah semakin penting karena modus dan teknologi pemalsuan uang terus berkembang.
Apabila terdapat fitur keamanan yang mulai dapat ditiru pelaku pemalsuan, Bank Indonesia bersama unsur-unsur Botasupal dapat mengevaluasi teknologi pengamanan tersebut untuk kemudian ditingkatkan.
"Ketika ada fitur-fitur yang mulai dipalsukan, kita akan tingkatkan. Ini bekerja sama dengan teman-teman dari Bank Indonesia supaya fitur uang kita terus ditingkatkan dan tidak mudah dipalsukan lagi," kata Mulyono.
Dari sisi bahan, uang palsu yang ditemukan selama ini umumnya masih memiliki kualitas relatif rendah dibandingkan dengan rupiah asli.
Pelaku pemalsuan pada umumnya menggunakan kertas biasa dan tinta printer berwarna, sedangkan uang rupiah asli menggunakan bahan kertas berbasis kapas.
Selain penguatan fitur keamanan, semakin luasnya transaksi non-tunai turut berkontribusi menekan peredaran uang palsu karena mengurangi penggunaan uang fisik dalam aktivitas ekonomi.
Masyarakat Diminta Mengenali Ciri Rupiah Asli
Masyarakat diminta memahami ciri dan fitur keaslian rupiah sebagai salah satu langkah mencegah peredaran uang palsu.
Apabila menemukan uang yang diragukan keasliannya, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak bank atau aparat kepolisian.
"Ketika kita mau memberantas uang palsu, kita harus tahu yang asli. Fitur-fiturnya harus kita ketahui secara detail," tegas Mulyono.
Upaya pemberantasan uang rupiah palsu dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat, penguatan data kasus pemalsuan, serta penegakan hukum.
Penanganannya dilakukan melalui kolaborasi lembaga yang tergabung dalam Botasupal, yakni Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian, Kejaksaan, Bank Indonesia, serta Kementerian Keuangan.
Data kasus pemalsuan yang dihimpun selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pencegahan maupun penindakan terhadap peredaran uang palsu di Indonesia.
- Penulis :
- Arian Mesa



