HOME  ⁄  Nasional

Kemenekraf Dorong Keraton dan Masyarakat Adat Menjadi Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kemenekraf Dorong Keraton dan Masyarakat Adat Menjadi Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Foto: (Sumber :Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya (tengah), berdialog dengan Ketua Umum FSKN sekaligus Raja Turikale VII Maros AA Mapparessa (ketiga kiri) saat menerima audiensi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Kamis (13/08/2026) (ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif).)

Pantau - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mendorong keraton dan masyarakat adat di Indonesia berkembang menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus tetap menjalankan peran dalam pelestarian tradisi.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai kekayaan budaya keraton dan masyarakat adat mempunyai potensi ekonomi besar apabila dikembangkan melalui ekosistem ekonomi kreatif.

“Kementerian Ekraf melihat keraton dan masyarakat adat sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan melalui ekosistem ekonomi kreatif. Pelestarian budaya perlu berjalan berdampingan dengan inovasi agar nilai-nilai tradisi tetap hidup, sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Teuku Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Kemenekraf Bidik Kolaborasi Lintas Subsektor

Pengembangan potensi budaya tersebut dapat dilakukan melalui kolaborasi sejumlah subsektor, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, kriya, fesyen, arsitektur, desain, hingga kuliner.

Salah satu peluang yang dibahas Kemenekraf bersama Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) adalah pengembangan Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN (FKMA).

Festival tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya keraton dan masyarakat adat Indonesia sekaligus memperluas jejaring ekonomi kreatif di kawasan ASEAN.

Kemenekraf selanjutnya akan melihat peluang untuk menyinergikan FKMA dengan berbagai program pengembangan subsektor kreatif yang relevan.

Kolaborasi itu diarahkan tidak hanya untuk mempertahankan tradisi, tetapi juga menghasilkan produk, pengalaman wisata, dan aktivitas kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

FSKN Dorong Pariwisata Berbasis Keraton

Ketua Umum FSKN sekaligus Raja Turikale VIII Maros AA Mapparessa mengatakan potensi keraton dapat dikembangkan menjadi model pariwisata dan ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Kami ingin mengangkat nilai-nilai budaya dan potensi keraton, baik dari sisi pariwisata maupun ekonomi kreatif,” kata AA Mapparessa.

Ia mencontohkan program wisata Hindu Heritage di Jakarta Selatan yang pernah diinisiasi FSKN sebagai salah satu titik awal pengembangan pariwisata berbasis keraton yang dapat direplikasi di berbagai daerah.

Momentum lima abad Jakarta juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mengangkat potensi budaya dan keraton sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif.

Melalui pengembangan tersebut, keraton dan masyarakat adat diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus masuk dalam rantai nilai ekonomi kreatif sehingga kekayaan budaya Nusantara tetap hidup dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Penulis :
Aditya Yohan