
Pantau - Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menilai pengamalan Pancasila semakin mendesak di tengah perkembangan media sosial dan keterbukaan informasi yang membuat generasi muda berinteraksi dengan berbagai budaya, pemikiran, serta ideologi dari seluruh dunia.
"Menurut saya, justru semakin mendesak. Generasi muda kita sekarang hidup dalam dunia yang sangat terbuka. Informasi dari seluruh dunia masuk setiap detik melalui telepon genggam," kata Dudung dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Dudung mengatakan masyarakat, termasuk generasi muda, kini dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai penjuru dunia yang berpotensi memengaruhi cara berpikir dan berinteraksi.
Menurut Dudung, keterbukaan tersebut tidak perlu ditakuti, tetapi harus diimbangi identitas kebangsaan yang kuat agar masyarakat dapat mengambil hal positif dari perkembangan dunia tanpa kehilangan jati diri.
"Di sinilah Pancasila menjadi sangat penting," ucapnya.
Generasi Muda Diminta Tak Sekadar Menghafal Pancasila
Dudung menekankan generasi muda tidak cukup hanya menghafalkan lima sila Pancasila, tetapi juga perlu memahami dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamalan tersebut dapat dilakukan dengan menghargai perbedaan, tidak mudah membenci orang lain, bermusyawarah ketika berbeda pendapat, membantu kelompok lemah, berlaku adil, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Dudung juga menilai penguatan nilai Pancasila diperlukan seluruh aparatur negara, terutama pihak yang mempunyai kewenangan langsung terhadap masyarakat.
Menurut dia, semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijalankan.
"Bagi aparat, Pancasila harus terlihat dalam cara menggunakan kewenangan, tegas tetapi tetap manusiawi, berani tetapi tidak sewenang-wenang, menegakkan hukum tetapi tetap menjunjung keadilan dan martabat manusia," katanya.
Pembinaan Pancasila Jadi Tanggung Jawab Bersama
Dudung menegaskan nilai Pancasila harus dirasakan masyarakat melalui pelayanan negara dan penegakan hukum sehingga tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, simbol upacara, ataupun slogan.
Ia juga menyatakan pembinaan ideologi Pancasila bukan hanya menjadi tugas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), melainkan tanggung jawab seluruh komponen bangsa.
Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, TNI-Polri, dan media disebut memiliki peran dalam memastikan Pancasila menjadi pedoman kehidupan sehari-hari.
"Pancasila bukan milik satu lembaga. Pancasila adalah milik seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Dudung mengatakan kekuatan Indonesia tidak hanya ditentukan sumber daya alam maupun jumlah penduduk, tetapi juga kemampuan bangsa menjaga persatuan di tengah keberagaman.
"Dan fondasi untuk menjaga persatuan itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika," kata Dudung.
- Penulis :
- Gerry Eka



