
Pantau - Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menyerukan tanggung jawab kolektif untuk mengatasi polusi dan perubahan iklim dalam pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026).
Jumhur menyampaikan keprihatinan terhadap sejumlah negara maju berkekuatan ekonomi besar yang dinilai mundur dari tanggung jawab kolektif mengatasi polusi dan perubahan iklim meski masih menjadi penyumbang terbesar emisi global.
Ia menegaskan adaptasi perubahan iklim merupakan bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan Indonesia.
"Oleh karena itu, bagi Indonesia, adaptasi iklim bukanlah agenda pinggiran. Ini adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita. Kita telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026-2030 sebagai peta jalan menuju Indonesia yang tangguh terhadap iklim dan sebagai dukungan terhadap Visi Indonesia Emas 2045," ujar Jumhur.
Indonesia Soroti Ancaman Iklim bagi Negara Kepulauan
Dalam sidang pleno tingkat tinggi yang diikuti 10 dari 11 negara anggota BRICS, Indonesia menegaskan perlindungan ekosistem dan ketahanan iklim harus menjadi aksi kolektif, terutama bagi negara kepulauan yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.
Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan sekitar 60 persen penduduk bermukim di wilayah pesisir sehingga kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem menjadi ancaman terhadap pembangunan dan kelompok rentan.
Jumhur turut memperkenalkan tiga praktik tradisional Nusantara dalam menjaga keseimbangan alam, yakni Subak di Bali untuk pengelolaan air terpadu, Sasi Lompa di Maluku untuk konservasi laut berkelanjutan, serta Awig-Awig sebagai hukum adat berbasis masyarakat.
"Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim, khususnya dengan memperkuat pendekatan berbasis masyarakat untuk mengelola air, ekosistem, dan sumber daya alam dalam menghadapi dampak iklim," kata Jumhur.
BRICS Dinilai Perluas Tata Kelola Lingkungan Global
Jumhur menyebut kehadiran BRICS dalam lanskap global dapat memperluas tata kelola lingkungan hidup dunia yang lebih representatif dan efektif.
Menurut dia, forum tersebut juga memberikan ruang bagi kearifan lokal untuk berkontribusi dalam mitigasi dan penanganan berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Indonesia turut menggarisbawahi pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati di darat dan laut sebagai fondasi bagi ekosistem sehat, ketahanan iklim, serta pertumbuhan berkelanjutan dalam jangka panjang.
- Penulis :
- Aditya Yohan



