
Pantau - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pemerintah memperkuat koordinasi untuk memitigasi potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah fenomena El Nino yang semakin kuat.
Penguatan mitigasi dilakukan karena kondisi iklim pada 2026 berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal sehingga meningkatkan risiko karhutla.
“Kewaspadaan semua pihak menjadi penting untuk mencegah karhutla, terutama ketika kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal,” kata Raja Juli Antoni.
El Nino Sangat Kuat, Pemerintah Intensif Berkoordinasi dengan BMKG
Menteri Kehutanan kembali mengingatkan ancaman El Nino tahun ini yang dinilai memiliki kemiripan dengan fenomena El Nino pada 2015.
Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi iklim bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terutama untuk mengantisipasi dampaknya terhadap peningkatan potensi karhutla.
Koordinasi dengan BMKG dilakukan secara intensif untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai kondisi El Nino dan risiko yang dapat ditimbulkannya.
“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” ungkap Raja Juli Antoni.
Berdasarkan data BMKG, El Nino saat ini berada pada kategori intensitas sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,19.
Kondisi tersebut menunjukkan suhu muka laut di Samudra Pasifik lebih hangat dibandingkan kondisi normal.
Peningkatan suhu muka laut itu berpotensi mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Ancaman kondisi kering diperkirakan semakin meningkat karena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi memasuki fase positif pada periode September hingga November 2026.
Fase positif IOD berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia sehingga memperbesar risiko kekeringan dan karhutla.
Menurut Menteri Kehutanan, fenomena El Nino yang datang lebih awal menyebabkan kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering.
Kondisi panas dan kering juga diperkirakan berlangsung lebih lama sehingga periode rawan karhutla berpotensi meningkat.
Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan potensi karhutla, tetapi juga memperbesar risiko muncul dan menyebarnya asap akibat kebakaran.
Asap Terdeteksi di Empat Wilayah, Masyarakat dan Korporasi Diminta Waspada
Berdasarkan citra sebaran asap pada 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB, asap telah terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebaran asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Di tengah kondisi tersebut, Menteri Kehutanan mengingatkan masyarakat dan korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Larangan pembakaran lahan semakin penting ketika kondisi cuaca panas dan kering karena api berpotensi lebih mudah muncul dan menyebar.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api sekecil apa pun yang dapat memicu kebakaran.
Salah satu tindakan yang secara khusus diingatkan adalah tidak membuang puntung rokok secara sembarangan karena dapat menjadi sumber api ketika kondisi lingkungan sangat kering.
“Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” kata Raja Juli Antoni.
Pemerintah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi karhutla dengan memperkuat koordinasi bersama BMKG, memantau kondisi iklim dan sebaran asap, serta mengajak masyarakat dan korporasi mencegah munculnya sumber api di tengah El Nino yang sangat kuat.
- Penulis :
- Leon Weldrick



