
Pantau - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menggelar pertemuan tertutup di dalam pesawat angkut Hercules C-130 untuk membahas pengembangan dan peningkatan kemampuan industri dirgantara nasional setelah GMF berhasil melakukan perawatan dan modernisasi pesawat tersebut.
Pertemuan berlangsung saat Sjafrie menerima pesawat C-130H yang telah menjalani perawatan dan modernisasi teknologi oleh PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) di hanggar Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu.
Pertemuan itu diikuti jajaran pejabat Kementerian Pertahanan, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi, Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Fadjar Prasetyo, jajaran GMF, serta sejumlah pejabat PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Sjafrie Minta Industri Nasional Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Dalam pertemuan tersebut, Sjafrie meminta industri dalam negeri meningkatkan kemampuan menangani perawatan pesawat, peningkatan teknologi, hingga pembaruan pesawat secara mandiri.
Sjafrie menilai kemampuan tersebut sangat mungkin dikembangkan setelah GMF untuk pertama kalinya berhasil menangani perawatan dan modernisasi Hercules secara maksimal yang sebelumnya dikerjakan perusahaan kedirgantaraan Amerika Serikat, Lockheed Martin.
"Jadi ini adalah suatu terobosan antara Garuda dan PT. DI yang sudah bisa diberi tugas untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam modernisasi C-130," kata Sjafrie.
Sjafrie berharap GMF dan PT DI terus meningkatkan kapasitas serta kapabilitas sehingga pada masa mendatang mampu menangani berbagai jenis alat utama sistem senjata (alutsista) milik TNI.
Peningkatan kemampuan tersebut diharapkan mendorong kualitas industri pertahanan dalam negeri sekaligus memperkuat alutsista melalui kemampuan nasional.
"Ini yang menjadi pemikiran kita ke depan yang juga menjadi konsep dari Bapak Presiden, bagaimana pengembangan kekuatan pertahanan ini kita tingkatkan dengan menggunakan kemampuan dari awak teknis yang berasal dari putra-putri bangsa Indonesia sendiri," ungkap Sjafrie.
GMF Serahkan Hercules C-130H A-1319
Dalam kesempatan tersebut, GMF menyerahkan pesawat C-130H dengan nomor registrasi A-1319 kepada Kementerian Pertahanan setelah menyelesaikan program modernisasi untuk memperkuat kesiapan operasional armada pesawat angkut TNI Angkatan Udara.
Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi menilai penyelesaian proyek tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan kapabilitas perusahaan sekaligus membuktikan kemampuan industri nasional mendukung kebutuhan strategis pertahanan secara berkelanjutan.
"GMF menyerahkan pesawat ini kepada Kementerian Pertahanan Republik Indonesia setelah dilakukan modernisasi," kata Andi.
Pesawat A-1319 merupakan pesawat kedua yang proyek modernisasinya berhasil diselesaikan GMF setelah sebelumnya perusahaan menyelesaikan modernisasi center wing box atau kotak sayap tengah pada pesawat A-1315.
"Pesawat ini merupakan pesawat kedua yang telah diselesaikan oleh GMF setelah sebelumnya menyelesaikan modernisasi center wing box pesawat A-1315," ungkap Andi.
Pesawat A-1319 memiliki arti khusus bagi GMF karena menjadi pesawat pertama yang menjalani proses modifikasi besar di fasilitas perusahaan tersebut.
Modifikasi besar tersebut mencakup center wing box replacement atau penggantian kotak sayap tengah, avionics upgrade program atau program peningkatan avionik, serta structural integrity program atau program integritas struktur.
"Sebagai modernisasi sesuai dengan perkembangan teknologi pesawat C-130 di dunia," kata Andi.
Pesawat A-1319 juga menjadi prototype atau purwarupa pertama yang menjalani pekerjaan modifikasi besar di luar fasilitas Lockheed Martin.
Modernisasi oleh GMF tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan sistem avionik, tetapi juga memperpanjang usia operasional pesawat sekitar 15 hingga 20 tahun.
Dengan penyerahan C-130H A-1319 kepada Kementerian Pertahanan, GMF berharap pesawat tersebut kembali memberikan kontribusi maksimal dalam mendukung berbagai tugas dan operasi TNI Angkatan Udara.
"GMF berkomitmen untuk terus meningkatkan kapabilitas, memperkuat kolaborasi dengan seluruh stakeholder, dan menghadirkan layanan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) yang terintegrasi," ungkap Andi.
Keberhasilan modernisasi C-130H A-1319 menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemandirian industri dirgantara dan pertahanan Indonesia, terutama dalam perawatan, perbaikan, pembaruan teknologi, serta modernisasi pesawat militer di dalam negeri.
- Penulis :
- Arian Mesa



