HOME  ⁄  Nasional

Warga Sukorahayu Hibahkan Lahan untuk Tanggul Pencegah Konflik Gajah Sumatra

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Warga Sukorahayu Hibahkan Lahan untuk Tanggul Pencegah Konflik Gajah Sumatra
Foto: Alat berat tengah mengeruk tanah untuk membuat tanggul pembatas sebagai upaya mencegah konflik dengan gajah Sumatra (sumber: ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)

Pantau - Warga Desa Sukorahayu, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur (Lamtim), menghibahkan sebagian lahan mereka untuk mendukung pembangunan tanggul pembatas sepanjang sekitar 600 meter sebagai upaya mengurangi konflik manusia dengan gajah Sumatra yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Kepala Desa Sukorahayu Afria Syahdi mengatakan pembangunan tanggul tersebut telah memiliki izin dan merupakan hasil kesepakatan antara petani dengan perangkat desa.

Pemerintah desa dan masyarakat berharap proses pembangunan tanggul dapat segera berjalan dan diselesaikan secepat mungkin.

"Kalau dari kami, desa dan para petani sudah sepakat. Kami malah minta supaya progres pembangunannya segera jalan dan cepat diselesaikan," kata dia.

Warga Siapkan Lahan Lebar 20 Meter

Afria meluruskan pemberitaan yang menyebut pembangunan tanggul menyebabkan akses masyarakat menuju sawah maupun kebun menjadi terhambat.

Menurutnya, informasi mengenai terhambatnya akses warga tersebut tidak benar.

"Kalau yang diberitakan akses warga terhambat ke sawah atau kebun itu tidak benar. Salah besar kalau dibilang begitu," ujarnya.

Afria mengatakan masyarakat justru memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan tanggul tersebut.

Sebagai bentuk dukungan konkret, warga bersedia menghibahkan sebagian tanah yang dimiliki untuk digunakan sebagai lokasi pembangunan.

"Justru masyarakat mendukung. Warga siap menghibahkan tanahnya untuk tanggul ini," katanya.

Lahan yang telah disiapkan masyarakat memiliki lebar sekitar 20 meter dengan panjang kurang lebih 600 meter.

"Lebarnya sekitar 20 meter, panjangnya kurang lebih 600 meter. Itu warga siap hibahkan supaya pembangunan tanggulnya bisa segera direalisasikan," ujarnya.

Namun, Afria mengatakan tanah di kawasan yang akan digunakan untuk pembangunan tanggul memiliki karakteristik sedikit bergambut sehingga perlu ditimbun dan dikeraskan sebelum konstruksi dilakukan.

"Tanahnya di sini sedikit gambut, jadi memang perlu ditimbun dan dikeraskan dulu. Tidak bisa langsung begitu saja dibangun," katanya.

Untuk memberikan kepastian mengenai status lahan, masyarakat dan perangkat desa juga bersedia membuat surat pernyataan hibah.

Dokumen tersebut diperlukan untuk memastikan penggunaan tanah telah mendapatkan persetujuan sehingga tidak menimbulkan persoalan pada kemudian hari.

"Kami juga siap membuat surat pernyataan dari warga dan perangkat desa bahwa tanahnya memang siap dihibahkan," ujar Afria.

Afria menegaskan masyarakat telah mempersiapkan lahan dan memberikan dukungan sehingga berharap tahapan pelaksanaan pembangunan segera dimulai.

"Intinya kami ingin proyek ini cepat selesai. Masyarakat juga sudah siap, tanah sudah disiapkan, tinggal bagaimana pelaksanaannya bisa segera jalan," katanya.

Konflik Gajah Berlangsung Puluhan Tahun

Dukungan masyarakat terhadap pembangunan tanggul tidak terlepas dari konflik dengan gajah Sumatra yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Masyarakat berharap keberadaan tanggul dapat mengurangi kemungkinan gajah masuk ke lahan pertanian dan perkebunan warga.

"Konflik gajah ini sudah lama sekali. Kami berharap tanggul ini bisa membantu mengurangi gajah masuk ke lahan masyarakat," ujarnya.

Konflik tersebut selama ini menyebabkan kerugian bagi petani karena tanaman berpotensi mengalami kerusakan ketika gajah memasuki lahan.

"Kasihan juga petani kalau tanamannya rusak terus. Jadi kami mendukung pembangunan ini karena memang untuk kepentingan masyarakat," lanjutnya.

Salah seorang warga Sukorahayu, Rahmad, juga telah menghibahkan tanah miliknya untuk pembangunan tanggul tanpa meminta ganti rugi maupun kompensasi.

"Kalau saya pribadi, tanah sudah saya hibahkan untuk pembangunan tanggul. Saya tidak menuntut ganti rugi atau kompensasi. Yang penting tanggulnya bisa selesai dan konflik gajah di sini bisa teratasi," kata Rahmad.

Menurut Rahmad, gajah beberapa kali memasuki kawasan tersebut dan menyebabkan kerusakan pada padi serta berbagai tanaman perkebunan milik masyarakat.

"Gajah itu sebelumnya memang beberapa kali masuk ke sini. Kalau sudah masuk, padi dan tanaman perkebunan warga bisa rusak," katanya.

Pembangunan tanggul dinilai semakin mendesak karena sejumlah sawah masyarakat saat ini sudah mulai memasuki masa tanam.

Masyarakat berharap penyelesaian tanggul dapat membuat petani lebih tenang ketika mengelola dan menanam di lahan mereka.

"Harapan kami segera diselesaikan. Apalagi sekarang beberapa sawah sudah mulai masuk masa tanam. Kalau tanggulnya sudah selesai, mudah-mudahan petani bisa lebih tenang dan konflik dengan gajah juga bisa berkurang," ujar Rahmad.

Pemerintah Desa Sukorahayu dan masyarakat berharap kesiapan lahan, hibah tanah, serta dukungan warga dapat mempercepat pembangunan tanggul sepanjang sekitar 600 meter tersebut untuk mengurangi konflik manusia dengan gajah Sumatra.

Penulis :
Shila Glorya