
Pantau - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempercepat penanganan dan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 agar kembali berfungsi normal.
Salah satu infrastruktur yang terdampak serius adalah jalan dan Jembatan Dampek pada ruas Jalan Provinsi Reo-Dampek-Pota di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Gempa menyebabkan retakan pada oprit jembatan yang sempat mengganggu kelancaran akses masyarakat di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi NTT Benyamin Nahak mengatakan penanganan jalan dan Jembatan Dampek dilakukan bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT.
Pekerjaan tersebut turut melibatkan mitra kerja, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
"Perbaikan retakan oprit Jembatan Dampek sudah kita laksanakan. Saat ini pekerjaan terus dipercepat dan ditargetkan pada 23 Agustus 2026 besok, jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi ini sudah kembali normal dan dapat dilalui kendaraan umum," ujar Benyamin.
Menurut Benyamin, percepatan perbaikan dilakukan setelah Gubernur NTT Melki Laka Lena berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan berbagai unsur terkait dalam menangani dampak gempa Flores.
"Kami dapat arahan langsung dari Bapak Gubernur Melki Laka Lena setelah kemarin beliau bersama Wapres mengunjungi wilayah Dampek dan kami langsung segera menindaklanjuti arahan beliau," jelasnya.
Pemprov NTT juga berupaya memastikan pemulihan tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar masyarakat, tetapi mencakup infrastruktur vital yang menunjang mobilitas warga.
"Jalan dan jembatan menjadi perhatian penting karena merupakan jalur utama mobilitas masyarakat sekaligus akses distribusi bantuan logistik ke wilayah-wilayah terdampak," ujar Nahak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat jumlah korban meninggal akibat gempa NTT hingga Sabtu (22/8/2026) pukul 16.00 WIB mencapai 87 jiwa.
Korban meninggal tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 31 jiwa, Manggarai Timur 30 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka sembilan jiwa, Ngada empat jiwa, Ende dua jiwa, dan Manggarai Barat satu jiwa.
Jumlah korban luka-luka tercatat mencapai 1.298 jiwa, sedangkan sebanyak 2.969 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa.
Jumlah pengungsi juga dilaporkan meningkat menjadi 150.576 jiwa karena gempa susulan masih kerap terjadi.
Pengungsi antara lain berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 41.427 jiwa, Nagekeo 34.256 jiwa, dan Manggarai Timur 31.372 jiwa.
Hingga data tersebut diperbarui, gempa susulan pascagempa M7,7 tercatat telah terjadi sebanyak 5.335 kali.
- Penulis :
- Gerry Eka



