
Pantau - Kementerian Kehutanan menambah personel Manggala Agni dan memperkuat operasi pemadaman udara atau water bombing menyusul peningkatan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Sebanyak 299 personel Manggala Agni dikerahkan untuk menangani karhutla, terutama di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho memastikan personel di lapangan mendapat dukungan logistik, layanan kesehatan, sarana dan prasarana, penguatan personel, serta koordinasi lintas unsur.
"Prioritas kita sekarang mengendalikan api dan menekan dampak asap terhadap masyarakat. Manggala Agni sudah bekerja berhari-hari di lapangan. Logistiknya harus cukup, kesehatannya dijaga, peralatannya tersedia, dan rotasi pasukan berjalan," ujar Dirjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho.
Sebanyak 600 Titik Panas Terdeteksi
Dari 299 personel yang dikerahkan, sebanyak 254 personel bertugas di Sumatera Selatan dan 45 personel Bantuan Kendali Operasi berasal dari Daops Sarolangun, Muara Tebo, dan Kota Jambi.
Kemenhut juga mendorong pemerintah daerah, BNPB, BPBD, TNI, Polri, dunia usaha, masyarakat, dan satgas udara bergerak bersama dalam menangani karhutla, terutama di wilayah sumber asap.
Data BPBD Sumatera Selatan hingga 21 Agustus 2026 mencatat 1.605 kejadian karhutla dengan indikasi luas wilayah terdampak mencapai 1.926,2 hektare.
Jumlah kejadian meningkat dari 456 kasus pada Juli menjadi 897 kasus pada Agustus.
Sebanyak 600 titik panas atau hotspot terdeteksi di Sumatera Selatan pada 22 Agustus 2026 dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pemadaman Udara dan Modifikasi Cuaca Diperkuat
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kemenhut Ferdian Krisnanto mengatakan operasi difokuskan pada lokasi kebakaran yang masih aktif dan menjadi sumber asap, terutama di Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Muara Enim.
Operasi darat Manggala Agni dan tim gabungan didukung patroli udara serta water bombing untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Operasi Modifikasi Cuaca juga dilakukan kembali pada 22 Agustus 2026 melalui satu penerbangan ke arah Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, dan Banyuasin.
"Pemadaman darat tetap menjadi kekuatan utama, didukung patroli udara, water bombing, dan Operasi Modifikasi Cuaca. Di lahan gambut, padam di permukaan belum berarti selesai, sehingga pendinginan terus dilakukan sampai bara di bawah permukaan benar-benar aman dan tidak kembali menghasilkan asap," ujar Ferdian.
- Penulis :
- Gerry Eka



