
Pantau - Ketua Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Suwanto menegaskan nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus diterapkan sebagai pedoman untuk merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Eko mengatakan semangat Sinau Pancasila perlu terus dihidupkan untuk memahami nilai dasar negara melalui sejarah sekaligus penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus menjadi pedoman dalam membangun persatuan,” katanya di Yogyakarta, Minggu (23/8/2026).
Menurut Eko, keberagaman telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa sehingga dialog dan keterbukaan perlu terus dirawat agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik.
Persatuan Harus Diwujudkan dalam Kehidupan
Eko mengatakan persatuan Indonesia tidak cukup dijaga melalui semboyan, tetapi harus diwujudkan dengan saling menghargai, menghindari ujaran kebencian, dan membangun komunikasi yang sehat di masyarakat.
“Nilai Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila perlu terus disemai agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Eko dalam sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY bersama DPRD DIY pada Sabtu (22/8/2026).
Sekretaris Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) DIY Retno Dwi Hastuti turut mengingatkan masyarakat agar menghindari ujaran kebencian yang berpotensi memecah persatuan.
Menurut Retno, keberagaman perlu dirawat dengan membangun sikap saling menghormati dan tidak mudah terprovokasi informasi yang dapat memperuncing perbedaan.
Retno mengatakan lingkungan pendidikan, keluarga, media, dan masyarakat perlu bersama-sama membangun budaya komunikasi yang sehat sehingga keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan Indonesia.
Eko Mengingatkan Sejarah Perjuangan Yogyakarta
Eko juga mengingatkan bahwa Yogyakarta pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia pada 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.
Menurut dia, sejarah tersebut perlu terus ditelusuri dan didokumentasikan agar generasi mendatang memahami peran Yogyakarta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Jangan sampai generasi ke depan mengetahui Yogyakarta hanya sebagai kota budaya dan pariwisata, tetapi lupa bahwa kota ini pernah menjadi pusat perjuangan mempertahankan Indonesia,” katanya.
- Penulis :
- Gerry Eka



