
Pantau - Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) telah memberikan 3.307 layanan kesehatan kepada warga terdampak gempa magnitudo 7,7 di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama enam hari misi solidaritas kemanusiaan KR-BNN NTB hingga 25 Agustus 2026.
Juru Bicara Pemprov NTB sekaligus Ketua Tim Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB Ahsanul Halik mengatakan tingginya jumlah pelayanan menunjukkan besarnya kebutuhan kesehatan masyarakat setelah gempa.
"Angka 3.307 layanan itu menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan memang cukup besar," ujarnya.
NTB Kerahkan 89 Relawan Kesehatan
Pemprov NTB mengerahkan 89 relawan kesehatan dalam dua tahap untuk memperkuat pelayanan bagi masyarakat terdampak bencana.
Sebanyak 53 relawan atau 60 persen diberangkatkan pada tahap pertama, kemudian 36 relawan atau 40 persen menyusul pada tahap kedua.
Tim tersebut didominasi 32 perawat dan 28 dokter serta diperkuat enam apoteker, tiga tenaga administrasi kesehatan, tiga psikolog, dua epidemiolog, dua tenaga kesehatan lingkungan, seorang bidan, seorang analis, dan tenaga pendukung lainnya.
Salah satu lokasi pelayanan berada di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, dengan sebagian petugas bergerak secara mobile untuk memperkuat pos kesehatan yang membutuhkan tenaga medis.
Jumlah pelayanan tercatat 134 layanan pada 20 Agustus dan meningkat menjadi 367 layanan sehari kemudian.
Puncak pelayanan terjadi pada 22 Agustus dengan 1.340 layanan, kemudian turun menjadi 879 layanan pada 23 Agustus, 381 layanan pada 24 Agustus, dan 201 layanan pada 25 Agustus.
Secara kumulatif, Tim Kesehatan NTB telah memberikan 3.307 layanan hingga 25 Agustus 2026.
ISPA hingga Diare Jadi Perhatian Tim Kesehatan
Keluhan yang paling banyak ditangani adalah myalgia sebanyak 751 kasus, disusul dispepsia 634 kasus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) 364 kasus, nyeri 268 kasus, dan hipertensi 259 kasus.
Tim kesehatan juga menangani pusing, diare, luka atau vulnus, bronkitis, serta sejumlah keluhan lainnya, sementara pengawasan penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa terus diperkuat.
ISPA menjadi penyakit potensial kejadian luar biasa yang paling dominan, sedangkan kasus diare juga mengalami fluktuasi selama periode pelayanan.
Kasus pneumonia mencapai 30 pada 24 Agustus dan masih tercatat 12 kasus pada 25 Agustus, sementara disentri menunjukkan kecenderungan meningkat pada akhir periode pengamatan.
Pelayanan secara mobile turut dilakukan untuk menjangkau masyarakat di luar pos dengan perhatian terhadap 37 balita usia 0-5 tahun, tujuh anak dan remaja usia 6-17 tahun, serta 152 penduduk usia 18-59 tahun di sekitar Desa Satar Padut.
Tim juga merujuk pasien dengan kasus obstetri ke Rumah Sakit Ruteng untuk memperoleh penanganan lanjutan serta berkoordinasi dengan Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga.
Sebagai pusat koordinasi dan pelayanan, Tim Kesehatan NTB mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.
"Penguatan respons kesehatan akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat di lapangan," kata Ahsanul.
- Penulis :
- Aditya Yohan



