
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan kesiapsiagaan nasional menghadapi ancaman bencana melalui sistem pendidikan dan infrastruktur yang adaptif, penguatan literasi kebencanaan, penataan ruang, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
Lestari mengatakan berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat sistem kesiapsiagaan nasional dari tingkat pemerintah hingga masyarakat.
"Indonesia adalah kawasan rawan bencana. Upaya membangun kesiapsiagaan nasional dengan sistem pendidikan dan infrastruktur yang adaptif, serta penguatan literasi masyarakat terkait kebencanaan harus segera diwujudkan," kata Lestari dalam sambutan tertulis pada diskusi daring bertema Meningkatnya Aktivitas Gempa Bumi Agustus 2026: Kesiapsiagaan Nasional dan Risiko Sistemik di Kawasan Padat Penduduk, Rabu (26/8/2026).
Menurut Lestari, pemerintah daerah di kawasan rawan bencana perlu memprioritaskan mitigasi, termasuk penertiban tata ruang dan audit konstruksi bangunan tahan gempa.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan sepanjang Agustus 2026 terjadi 11 gempa dengan magnitudo di atas 5,7 yang tersebar dari Sumatera, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Maluku Utara, hingga Nusa Tenggara Timur.
Wijayanto menjelaskan tingginya aktivitas gempa dipengaruhi posisi Indonesia yang berada di pertemuan empat lempeng besar dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.
Ia menyebut dua penyebab utama gempa di Indonesia berasal dari proses subduksi lempeng atau megathrust dan aktivitas patahan aktif.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB Agus Riyanto mengatakan hingga 25 Agustus 2026 tercatat 1.587 bencana terjadi di Indonesia dengan dominasi bencana hidrometeorologi, sementara bencana geologi tercatat 14 kejadian.
Menurut Agus, risiko bencana ditentukan oleh besarnya ancaman, kapasitas masyarakat dan lembaga dalam memahami bencana, serta tingkat kerentanan yang ada.
Peneliti Senior Bidang Gempa Bumi dan Tsunami BRIN Nuraini Rahma Hanifa menilai dampak gempa sangat bergantung pada tingkat kesiapan masyarakat dan wilayah dalam mengantisipasi bencana.
"Gempa itu sejatinya fenomena alam, bencana terjadi bila manusia yang hidup di tengah fenomena alam itu tidak siap mengantisipasi dampaknya," ujar Nuraini.
Ia mendorong pembangunan konstruksi tahan gempa di kawasan rawan sebagai langkah untuk menekan risiko korban dan kerusakan.
Wartawan Media Indonesia di Nusa Tenggara Timur Marianus Marselus mengatakan gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 menunjukkan pentingnya sistem peringatan dan infrastruktur komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat.
Menurut Marianus, peringatan dini masih kerap tidak sampai kepada warga karena keterbatasan infrastruktur komunikasi di sejumlah wilayah.
Lestari menegaskan ketahanan nasional dalam menghadapi bencana harus dibangun sejak tingkat rumah tangga dan komunitas sebagai unit masyarakat terkecil.
"Kesiapan para pemangku kepentingan dan literasi masyarakat yang baik terkait bencana diharapkan mampu meredam potensi ancaman bencana yang kerap terjadi di tanah air," pungkas Lestari.
Wartawan senior Usman Kansong menilai mitigasi dapat dilakukan dengan melarang pembangunan di zona merah rawan bencana atau mewajibkan konstruksi tahan gempa jika pembangunan tetap dilakukan.
Ia juga menekankan pentingnya latihan dan simulasi kebencanaan secara konsisten agar masyarakat mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.
"Umumnya kita baru giat berlatih ketika sudah terjadi gempa. Ketika situasi sudah aman kita sering lupa," ujar Usman.
- Penulis :
- Aditya Yohan




